(Merayakan Hari Kusta Internasional / 25 Januari 2010 )
Pada 27 Desember 2009 yang lalu, saya menerima sebuah pesan singkat dari dosen dan sekaligus teman diskusiku, Dr. Otto Gusti Nd Madung, SVD. Kutipan langsung pesan singkat itu demikian, “The highest form of spiritual work is the realization of the essence of man.” (Bentuk tertinggi dari karya roh adalah perwujudan esensi manusia). Sejenak saya berpikir bahwa mungkin pater Otto Gusti hanya ingin mengirim sebuah sms tanpa pretensi menuntut penerima sms untuk mempersoalkan isi sms tersebut. Akan tetapi, saya sadar bahwa pesan seperti ini jarang saya terima dari sesama kenalan dan sahabat-sahabatku. Karena itu saya memutuskan untuk menyimpan pesan tersebut dalam memori hand phone.
Pada saatnya, ketika berulang kali saya membaca sms tersebut, saya memahami bahwa hidup ini terus berlangsung dalam karya roh universal. Dan bentuk tertinggi dari karya roh, mengikuti sms pater Otto Gusti, adalah perwujudan esensi manusia. Pertanyaan saya adalah apa yang menjadi esensi manusia? Kesadaran merupakan jawaban atas pertanyaan ini. Bahwa manusia adalah makhluk yang berkesadaran.
Untuk bisa hidup secara tulus dan benar, hal yang mutlak diperlukan adalah kesadaran yang total. Tanpa kesadaran penuh, maka yang terjadi dalam lingkup hidup seseorang adalah “chaos” (keadaan tidak harmonis). Berbagai persoalan dalam kehidupan bersama, terjadi karena manusia hidup dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar; manusia tidak sadar akan apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia hindari serta manusia kerap tidak sadar akan dirinya sendiri.
Krisis kesadaran
Bulan November tahun lalu, pater John Prior, SVD mengalami kecelakaan ketika sedang bersepeda di Maumere. Tak dinyana, seorang “Samaria” yang baik hati mengantar pater John ke RSUD TC. Hiller Maumere. Setibanya di UGD, dalam kondisi darurat pater John dan rekan-rekannya mesti menunggu pelayanan medis selama 5 jam. Meski sudah menunggu sekian lama, satu-satunya pelayanan yang diterima pater John adalah layanan seorang petugas bagian rontgen. Karena keadaan ini darurat, maka pater John diantar lagi ke Rumah Sakit St. Elisabet-Lela untuk mendapat pelayanan medis yang lebih baik (PK, 20/11/2009).
Mencermati kisah tentang pater John, saya berpikir bahwa keadaan seperti itu boleh jadi sudah lama terjadi dalam pelayanan medis di RSUD TC. Hiller. Namun, kali ini pater John sendiri mengalaminya dan pater John bukan tipe orang yang tinggal diam sesudah mengalami suatu pengalaman “luar biasa” seperti itu. Pater John sendiri mengungkapkan apa yang dialaminya dalam tulisannnya yang dimuat di harian umum ini.
Mengingat lagi kisah tentang pater John, saya berpendapat bahwa saat itu (entahlah saat ini), secara institusional RSUD TC. Hiller mengalami krisis kesadaran. Tepatnya para pelayan medis di bagian UGD tidak sepenuhnya sadar akan apa yang harus mereka lakukan pada jam dinasnya. Sudah sangat pasti, bahwa ketika itu para perawat yang seharusnya berada di UGD berada di tempat lain. Dengan demikian, tepat sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak sadar akan apa yang harus mereka lakukan saat itu.
Butuh dedikasi
Di tengah krisis kesadaran dan semangat pelayanan sebagaimana yang diuraikan di atas, saya teringat dua “pahlawan” di bidang medis. Lebih tepat saya menyebut mereka sebagai “yang datang untuk mengabdi”. Keduanya adalah Izabela Diaz Gonzales (Mama Is) dan Gizela Borowka (Mama Putih). Secara total keduanya mengabdikan diri untuk para penderita kusta di Lembata dan Alor.
Sejak 1968 hingga 1987, Mama Putih mengabdikan diri untuk para penderita kusta di Lomblen-Lembata. Dari Lembata ia bergerak menuju pulau Alor. Di Alor ia melanjutkan dedikasinya yang tanpa pamrih untuk kaum kusta. Mengikuti tokoh idolanya pater Damian (pelindung kaum kusta), yang tahun lalu telah dikanonisasikan oleh Paus Benediktus XVI, Mama Putih mengurung niat untuk kembali ke negerinya – Jerman. Ini merupakan sebuah bukti nyata pengabdian total untuk kaum kusta.
Tak heran, pada 1980 Mama Putih menerima penghargaan tertinggi dari pemerintah Jerman atas dedikasinya sebagai pekerja sosial. Pada 11 November 2000, ia menerima Sidomuncul Semarang atas jasa-jasanya di bidang sosial kemanusiaan. Penghargaan lainnya, pada 2009 ia menerima Kick Andy Award bidang kesehatan.
Tak jauh berbeda dari Mama Putih, Mama Isabela Diaz Gonzales (belakangan dikenal sebagai Mama Hitam) setia melayani kaum kusta sampai lanjut usia. Dedikasinya yang tinggi membuat ia mengurung niat untuk hidup berkeluarga. Ia mencintai para penderita kusta secara total. Mama Putih menunjukkan totalitas pengabdiannya dengan tidak kembali ke negeri asal dan menjadi WNI. Sedangkan Mama Hitam menunjukkan pengabdiannya yang tanpa pamrih dengan “melupakan” hidup berkeluarga. Ia memberi diri secara total untuk melayani para penderita kusta yang terkucil dari pergaulan sosial.
Berkat pengabdiannya bersama temannya Gizela Borowka, sebuah rumah sakit lepra pun berhasil didirikan di Lomblen. Ia berhasil menyediakan tempat yang layak bagi orang-orang yang mendapat stigma sebagai kaum terkutuk. Seperti Mama Putih, ia pun menerima sejumlah penghargaan; Penghargaan Badan Internasional Penanggulangan Kusta di Wurzburg – Jerman/1970, Penghargaan dari pemerintah pusat/1972, Penghargaan dari pemerintah Flotim/1985, dan Sidomuncul Award/2000 (PK, 10/01/2010).
Apa yang bisa kita petik dari riwayat dua orang “yang datang untuk mengabdi” ini? Saya melihat semangat melayani yang total dalam diri mereka. Suatu kebajikan yang jarang kita jumpai di tengah dunia yang kian dikuasai oleh semangat merebut materi bahkan merebut materi melulu dengan cara-cara yang tidak halal. Totalitas pelayanan mereka nampak dalam hal-hal seperti mengabdi tanpa batas ruang dan waktu, tanpa pamrih, tanpa menuntut lebih, tanpa mimpi meraih penghargaan sekalipun penghargaan mengalir baik dari dalam maupun luar negeri.
Cara hidup dan semangat pelayanan yang demikian mengingatkan kita bahwa karya mereka merupakan perwujudan terdalam esensi manusia sebagai makhluk berkesadaran. Mereka sungguh menyadari diri sebagai pelayan kaum kusta. Mereka benar-benar sadar akan siapa yang harus mereka layani. Mereka mengenal identitas dirinya dan karena itu secara total mereka sadar menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Semangat melayani dengan kesadaran total, pada kenyataannya belum dimiliki oleh banyak pelayan publik. Ini merupakan krisis besar yang sedang melanda banyak lembaga publik di republik ini. Tanpa dedikasi yang tinggi dan kesadaran total akan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab, maka pelayanan manusia akan menjadi sia-sia belaka, nirmakna.
*Penulis , Staf Pengajar Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans – Mataloko (dimuat pada HU FP: 3 Februari 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar