Selasa, 10 Mei 2011

Pria Miskin, Perempuan Sakit, Segelas Susu dan Air Mata Kebahagiaan



Pria Miskin, Segelas Susu, Perempuan Sakit,  dan Air Mata Kebahagiaan

Suatu hari, seorang
pria miskin yang menjual
asongan  dari  pintu ke pintu
untuk membiayai hidupnya, sadar bahwa di kantongnya
hanya tersisa beberapa sen  uangnya, dan dia sangat lapar.

Pria tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari
rumah berikutnya. Akan tetapi
pria itu kehilangan keberanian saat
seorang wanita muda  membuka pintu rumah.
Anak lelaki itu tidak jadi meminta
makanan, ia hanya berani  meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki
tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia  membawakan segelas besar
susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan  kemudian bertanya,
“Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?"
Wanita itu  menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami
mengajarkan untuk  tidak menerima bayaran untuk kebaikan"
, kata
wanita itu menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan
berkata :" Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut  mengalami sakit
yang sangat kritis. Para dokter di
kota itu sudah tidak sanggup
menanganinya.

Mereka  akhirnya mengirimnya ke kota besar, di
mana terdapat dokter
spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.
Pada
saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut,
terbersit
seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan
bergegas turun melalui hall  rumah
sakit, menuju kamar si wanita
tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.

Ia langsung mengenali wanita itu pada pandang
an pertama. Ia kemudian
kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya
terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia
selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh
kemenangan... Wanita itu sembuh !!.
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan
seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas
lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat
yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun
harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut,
dan ada sesuatu yang menarik perhat
iannya. Pada pojok atas
lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi... "Telah
dibayar
lunas dengan segelas besar susu !!", tertanda, DR. Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: "Tuhan,
terima
kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati
dan tangan manusia."

Sebab itu, “Masuklah melalui pintu gerbangNya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataranNya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepadaNya dan pujilah namaNya! Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya dan kesetiaanNya turun-temurun.” (Mzm 100: 4-5)

Minggu, 08 Mei 2011

Surat Seorang Ibu untuk Seorang anak....


Cintailah Ibu Dengan cara dan cinta yang istimewa...
Aku mempunyai ibu yang hebat.
          Beliau menyayangiku dengan sepenuh hatinya.
      Beliau berkorban dan membantu aku dalam segala hal.
     Hari ini, wanita yang hebat itu telah kami semadikan untuk
                        selama-lamanya.
 Dapatkah anda bayangkan perasaanku apabila suatu hari aku pergi
                               ke  rumah ibuku, aku telah terjumpa sajak ini terlipat sepi di
dalam laci mejanya?  Sajak nya berbunyi begini.

                             ***---***

                    INILAH MASANYA

               Jika kau ingin mencintai ibu
                  Cintalah ibu sekarang
                      Supaya ibu tahu
           Keindahan dan kelembutan kasih
         Yang mengalir dari sanubarimu
                  Cintalah ibu sekarang
                Semasa ibu masih hidup

        Jangan tunggu sampai ibu telah pergi
        Kemudian barulah diukir di batu nisan
  Dengan kata-kata indah pada sekujur batu yang
                              sepi
    Jika kau memiliki ingatan manis buat diri ibu
           Tunjukkanlah pada ibu sekarang
 
          Jika kau tunggu sehingga ibu mati
       Sudah pasti ibu tidak dapat mendengar

            Kerana kita dibatasi kelemahan
             Oleh itu, jika kau mencintai ibu
      Walaupun hanya secebis dari lautan
                           hidupmu
            Lafalkan dan buktikan sekarang
               Sementara ibu masih hidup
  Agar ibu dapat menikmati dan menyanjunginya

                             ***---***

 Sekarang ibu sudah pergi dan aku menderita dengan rasa bersalah
                             sebab
 aku tidak pernah menyatakan betapa besar nilai ibuku selama
ini.
    Malah aku tidak pernah melayani ibuku dengan sewajarnya.
   Aku layani semua orang untuk semua urusan, tetapi aku tidak
                             pernah
        meluangkan masa yang cukup untuk ibuku sendiri.
   Sebenarnya aku mampu menuangkan air ke dalam cawannya,
            kemudian memeluknya ketika bersarapan,
      tetapi aku telah mengutamakan urusan rekan-rekanku.
       Pernahkah rekan-rekanku melayaniku seperti ibuku?
                      Aku tahu jawabannya.
  Apabila aku menelpon ibu, aku senantiasa lakukan dengan cepat,
                    ringkas dan tergesa-gesa.
                  Aku benar-benar merasa malu
   apabila mengingatkan tindakan masa lampauku terhadap ibu.
  Aku masih ingat berapa banyak waktu yang aku berikan padanya
     dan banyak kali aku biarkan dia begitu saja.

  Anak-anakku sayang akan nenek mereka sejak mereka kecil lagi.
     Mereka mengunjunginya untuk mendapatkan nasihat dan
                          ketenangan.
                    Nenek memahami mereka.
   Aku sadar dan mengerti sekarang bahwa aku terlalu kritikal,
        sensitif dan terlalu susah untuk menghargai nenek
   yang telah mencurahkan kasih tanpa syarat kepada cucunya.

       Dunia ini dipenuhi oleh anak-anak sepertiku.
  Aku berharap mereka insaf dan mendapat manfaat dari
                           surat ini.
 Aku sudah terlambat dan kini aku sedang dilanda derita
 dan penyesalan yang tiada penghujung dan nokhtahnya.

Sabtu, 07 Mei 2011

Memberi dan tak pernah menyesal karena memberi...

Memberi.....


Ada Orang yang memberi sedikit dari banyak harta yang dimilikinya;
itupun diberikannya agar mendapat  penghormatan. Keinginan tersembunyi itu
menjadikan pemberiannya tidak utuh.

Ada orang yang hanya memiliki sedikit, dan itu semua diberikannya .
Orang-orang semacam ini adalah orang yang percaya akan daya kehidupan, dan
mereka tidak pernah kekurangan.

Ada orang yang memberi dengan gembira,
dan kegembiraan itulah ganjaran baginya.

Ada orang yang memberi dengan sedih,
dan kesedihan itu merupakan pembaptisan baginya.

Ada orang yang suka memberi dan tak kenal menyesal dalam memberi bila ia
memberi.
Ia tidak mencari kegembiraan dan juga bukan mengejar keutamaan.
Ia memberi, seperti bunga-bunga di lembah menyebarkan keharuman.
Lewat tangan-tangan orang-orang itulah Allah berbicara, dan dari balik
mata mereka Ia tersenyum kepada Dunia.

                                                                                   - Khalil Jibran -

Minggu, 01 Mei 2011

Sungai Kehidupan...



Mengalir bersama sungai kehidupan
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".

Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit.
Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".

"Penyakitmu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.

"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup.
Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah.
Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !