Minggu, 27 November 2011

We Are the 99%


“We are the 99%”
(Dukung Suara Tokoh Agama, Lawan ‘Kultur Bisu’)

Oleh Milto Seran
Staf Redaksi Seri Buku VOX – Ledalero 
(HU Flores Pos, 25/11/2011)
KITA hidup pada satu masa yang ditandai kejahatan korupsi. Hampir setiap hari media cetak nasional semisal Harian Umum Kompas, Media Indonesia dan Koran Tempo menurunkan berita seputar persoalan korupsi yang melibatkan pejabat negara, politisi dan bahkan pengusaha.
Dalam konteks Lokal NTT, kita pun tahu bahwa daerah kita tak luput dari permasalahan korupsi. Berbagai kasus penyelewengan uang negara sering menjadi headline news media cetak lokal.
Kontinuitas pemberitaan itu pada satu pihak menunjukkan posisi investigatif media cetak sebagai kekuatan yang mendalami sebuah kasus sampai ke akar-akarnya. Tapi pada pihak lain, hal ini menegaskan megaskandal korupsi bukan lagi permasalahan remeh-temeh. Publik makin dibikin melek dengan berbagai temuan KPK. Intinya, korupsi menggurita dari pusat hingga daerah-daerah.
Persoalan korupsi itu memang masalah runyam yang tak mudah dicarikan solusinya. Maka kita bisa mengatakan; mustahil megakorupsi yang dihadapi bangsa Indonesia bisa dipecahkan dalam tempo 100 hari, suatu rentang waktu amat singkat. Tapi pernah dikampanyekan dari pusat, seolah skandal korupsi itu masalah isapan jempol. Hasilnya? Program 100 hari memerangi korupsi hanyalah slogan belaka.
Belakangan KPK kembali menggoyang kesadaran kolektif kita, dengan mengurai kasus korupsi Wisma Atlet Sea Games XXVI. Aktor kuncinya Muhammad Nazaruddin. Namun,  Nazaruddin tidak sendirian. Sejumlah wakil rakyat dan pejabat publik ikut terseret. Tak luput pengusaha-pengusaha besar juga disebutkan namanya. Beberapa oknum yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka misalnya, Nazaruddin,Wafid Muharam, Mindo Rosalina Manulang, dan Mohammad El Idris. KPK juga memastikan tersangka baru (belum disebutkan nama) dari kalangan DPR.
Apakah parlemen, pemerintah dan penegak hukum harus begini? Simak saja! 268 koruptor yang dijerat KPK terdiri dari anggota parlemen, pejabat pemerintah, dan penegak hukum (Koran Tempo, edisi 15/11/2011).
Angka ini menguatkan pendapat bahwa siapa saja bisa tergelincir ke dalam skandal korupsi. Termasuk pejabat publik, politisi, penegak hukum dan mereka yang duduk di parlemen. Sampai di sini, tampaknya credo John Lock (1632 – 1704) benar; “Semua orang rentan berbuat salah; dan kebanyakan orang, dalam banyak hal, entah karena nafsu atau kepentingan, tergoda untuk melakukannya”. Apakah penyelenggara negara harus jadi koruptor? Bisa dipastikan, mereka tidak harus seperti itu. Tapi nafsu dan kepentingan menjadikan “mereka harus jadi koruptor”.

We are the 99%
Barangkali realitas amburadul ini meyakinkan Busyro Muqoddas, ketua KPK, untuk menyebut abad ini sebagai Era Kaliyuga. Suatu masa yang menggambarkan keruntuhan. Tanda-tandanya, mereka yang berkuasa adalah orang kaya. Orang pandai dan pemberani, pertapa, pendeta, serta ulama tunduk kepada mereka.
Kita saksikan di pertengahan paruh kedua tahun 2011, sebagian besar masyarakat global mulai sadar bahwa manusia sedang hidup dalam Era Kaliyuga. Tidak bisa disangkal. Praksis hidup masyarakat mundial dikendalikan oleh orang-orang kaya yang berkuasa. Ketamakan, ketidakadilan dan penyelewengan menjadi hal lumrah dalam keseharian hidup. Lantas unjuk rasa dan perlawanan timbul karena orang sadar akan realitas ketidakadilan.
Umumnya gerakan lawan ketidakadilan itu berakhir dengan aksi-aksi anarkis. Tapi saya berpikir bahwa demonstrasi “nakal” (anarkisme) mungkin saja ditempuh sebagai sebuah bahasa, ketika jalan dialog terasa “mandul” menyampaikan pesan perjuangan rakyat. Sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, wong cilik menempuh “kenakalan” (baca: keberanian) untuk menggoyang kesadaran minoritas yang berkuasa, meski jalan “kenakalan” bukanlah keharusan dan sering menyalahi ketertiban umum.
Di beberapa negara, anarkisme itu dipicu gerakan Occupy Wall Street (OWS), sebuah gerakan yang mengecam ketidaksetaraan ekonomi dan ketamakan korporat.  OWS merembet dari New York hingga melintasi Samudra Atlantik. Demonstrasi di Italia misalnya, diwarnai kekerasan. Pengunjuk rasa membakar sejumlah kendaraan dan memecahkan jendela bank-bank. Mereka juga menghancurkan kaca toko dan lampu lalu lintas.
Gerakan OWS lalu menyentuh Spanyol, Jerman, Swiss dan Belgia. Di Swiss, yang sohor akan bank-bank penampung uang dari seantero dunia, para demonstran meneriakkan, “Kami ialah 99%”. Seruan itu merujuk mayoritas warga dunia yang nasibnya dikendalikan kaum minoritas, yakni bankir dan politisi (Media Indonesia, edisi 17/10/2011).
Di Asia, OWS kehilangan gemanya. Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan dan Jepang, OWS gagal dijalankan karena cuaca, kurangnya animo masyarakat dan juga karena polisi segera menyiasati rencana aksi dimaksud.

Suara Tokoh Agama
            Gerakan OWS memang tidak terjadi di Indonesia. Bel kesadaran kolektif dalam seruan “We are the 99%” tak terdengar di jalan-jalan kota. Keadaan bungkam ini bisa dipahami, karena banyak pihak masih jadi penonton, manakala berhadapan dengan realitas kejahatan seperti korupsi. Fenomena yang disebut “kultur bisu” tampak jelas di sini; suatu keadaan sosial di mana masyarakat dibikin tak berdaya mengekspresikan diri.
            Fenomena tersebut terbaca dalam gerakan anti-ketidakadilan dan kejahatan korupsi, teristimewa gerakan sistematis dan konsisten yang masih terbatas pada kalangan tertentu.  Banyak orang kelihatannya tidak berminat terlibat dalam jalan panjang upaya penegakan HAM, yang terwujud misalnya dalam perdebatan, diskusi dan unjuk rasa antikorupsi.
Tapi menarik. Segelintir pemimpin agama turun ke jalan-jalan kota untuk menggemakan sikap mereka. Dalam konteks nasional, Pendeta Andreas A. Yewangoe, dkk (lintas agama), pada pertengahan Oktober 2011, menyampaikan surat keprihatinan terbuka kepada rakyat. Di Tugu Proklamasi (Jakarta), mereka menyatakan miris dengan kemiskinan yang kian mencekik rakyat dan korupsi yang semakin menggurita.
            Sedangkan dalam skala lokal Maumere, pada akhir Oktober lalu,  ada pernyataan sikap 15 pastor. Mereka menyampaikan sejumlah desakan sehubungan dengan penanganan kasus penyelewengan Dana Bansos 2009. Desakan itu ditujukan kepada DPR.
            Saya lihat dua hal dalam pernyataan sikap tokoh-tokoh agama itu. Pertama, dengan pernyataan sikap ini, mereka menegaskan status kegembalaan mereka. Tentu gembala yang baik peduli akan nasib domba-dombanya. Tidak hanya domba yang lemah, tapi juga yang kuat. Tidak hanya yang kurus, tapi juga yang gemuk. Tidak hanya yang hilang, tapi juga yang tersesat. Tidak hanya yang luka, tapi juga yang sakit. Semuanya digembalakan sebagaimana seharusnya (Bdk. Yeh 34: 16). Tiba pada poin ini, tidak keliru jika penyelenggara negara yang menyelewengkan uang negara dilihat sebagai “domba” tersesat dan mesti “dibawa pulang” (baca: disadarkan).
Tapi jika para tokoh agama bungkam di hadapan ketidakadilan, mereka justru melakukan kejahatan lain, oleh sebab mendiamkan ketidakadilan segelintir orang mendera kehidupan publik.  Dengan demikian, sebagai gembala, pernyataan sikap itu bukan lagi sebuah opsi, melainkan kewajiban. Argumentasinya, gembala yang baik mesti memastikan domba-dombanya kenyang dan aman dulu, sebelum ia mengurus dirinya.
Kedua, khusus tentang pernyataan sikap para pastor pada tingkat lokal, mestinya hal ini diwujudkan secara sistematis dan menyeluruh dalam pengertian solidaritas “lintas batas”. Intinya, gerakan itu tidak boleh terbatas pada agama, unit profesi dan wilayah tertentu. Dalam kasus ini, penyelewengan Bansos di Sikka misalnya, mesti ditanggapi oleh segenap “keluarga besar NTT” sebagai persoalan bersama.
Hal terakhir ini menegaskan identitas mayoritas 99% (kita) yang mau berjuang lawan ketidakadilan minoritas 1%. NTT, sekali lagi, mesti dilihat secara holistik sebagai satu “communio”. Jangan biarkan satu daerah berjuang sendirian lawan ketidakadilan. Dengan cara pandang ini, kita bakal sanggup menanggalkan selubung “kultur bisu” yang masih dijumpai dalam kehidupan lokal NTT.*** (HU FP, 25/11/2011)
           
           

Sabtu, 22 Oktober 2011

Wang Yue

  "Wang Yue dan Bahasa Kemanusiaan"
     Wang Yue yang naas itu adalah satu dari tanda-tanda zaman yang berbicara kuat untuk umat manusia di abad ini. Wang Yue bukanlah Muammar Qaddafi yang mahakuasa di Libya, tapi yang mesti mati dibunuh rakyatnya sendiri. Juga bukan teroris yang dicintai golongannya, tapi bencana bagi kemanusiaan.
      Memang tidak seperti itu, tapi Wang Yue bak sepuntung rokok yang dilindas orang-orang di pinggir jalan. Hidupnya sangat singkat. Cuma 2 tahun. Seperti sebatang korek api yang nyalanya belum banyak menginspirasi orang di kegelapan. Seperti itu juga Wang Yue. Kisahnya menyedihkan. Ia dilindas oleh seorang sopir. Tidak dihiraukan oleh para pejalan kaki. Dan ini lebih tragis lagi. Bayi perempuan itu tidak diindahkan oleh sopir yang lain, malah dilindas untuk kedua kalinya. Sempat ditolong ibunya. Tapi Wang Yue mengalami koma selama 8 hari dan ia pun meninggal (Yahoo News, 21/10/11).
      Wang Yue adalah salah satu bahasa kemanusiaan yang tak dipahami sesama di hadapan ibu kandungnya. Tapi seperti yang lazim terjadi, bahasa apa pun di muka bumi ini, hanya dipahami oleh orang-orang yang memperhatikannya, mencintainya dan menggunakannya secara benar.
      "WANG YUE, WE LOVE YOU...", demikian komentar beberapa orang yang membaca berita kematian Wang Yue dengan hati yang gundah tapi juga geram. Kematian Yue mengundang reaksi di dunia maya.  “Aku berharap malaikat kecil ini, yang dibuang oleh masyarakat, jadi alarm tentang betapa pentingnya pendidikan moral,” tulis seorang blogger.***

Senin, 03 Oktober 2011

Korupsi dan Hasrat Segitiga

Korupsi dan Hasrat Segitiga
Oleh Milto Seran 
Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero
(Dipublikasikan pada HU Media Indonesia edisi 4 Oktober 2011)

KORUPSI sebagai suatu tindakan selalu meli batkan banyak pihak. Tak mengherankan bila penanganan korupsi di tingkat lokal dan nasional terkesan berbelit. Namun, apa yang menjadi akar dari korupsi sebagai sebuah tindakan? Tindakan korupsi mesti berakar pada suatu hasrat individual ataupun kolektif.
Tindakan korupsi dan hasrat tersebut pada dasarnya mengandung keruwetan dan kerawanan. Tentang hasrat, pemikir Prancis Rene Girard (1923 -­- ) menjadikannya sebagai pokok penting dalam penelitiannya di bidang antropologi.

Hasrat mimetik
       Dua pokok pikiran berikut meringkaskan teori Girard tentang Hasrat Segitiga (Trianguler Desire). Pertama, hasrat manusia itu tidak pernah otonom secara sempurna. Hasrat itu mengikuti pola segitiga. Artinya, ia tidak langsung mengenai objek yang ditujunya; ia menghasratkan objek itu lewat jalan putar, sebuah mediator. Tesis Girard menyatakan, `manusia selalu menghasratkan sesuatu lewat mediator '. Sebagai contoh, seseorang ingin memperoleh kekayaan dengan cara-cara koruptif (koruptor in potentia).
     Namun, keinginan itu berputar melalui `jabatan publik' yang diidealkan. Jika kelak yang bersangkutan sukses merebut suatu jabatan publik, dan mulai menyelewengkan uang negara (koruptor in actu), konklusinya jabatan merupakan mediator, dan melalui itulah koruptor mewujudkan hasratnya.
Kedua, hasrat segitiga itu mau tak mau menyimpan rivalitas. Sebab, mediator yang semula adalah model lamalama dipandang sebagai rival yang menghalangi perwujudan hasrat subjek. Relasi subjek dan modelnya di sini sungguh ruwet dan menyimpan bahaya. Di satu pihak, subjek menginginkan kesuksesan modelnya. Namun di pihak lain, subjek menginginkan modelnya gagal dan kalah.Kemenduaan ini makin ruwet dan rawan ketika persaingan menajam (Sindhunata, 2006).
      Dalam contoh tersebut, rivalitas muncul ketika jabatan tertentu menjadi objek rebutan bersama. Riilnya, tahap rivalitas bisa diringkas dalam kisah suksesi pemilu kada. Banyak paket bersedia mengorbankan ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk memenangi pemilu kada. Rivalitas tak terhindarkan, sebab model tertentu (pejabat dan jabatan yang diidealkan) pada saat yang sama tidak hanya merupakan idola, tapi juga rival.
Rivalitas ini mesti dipahami sampai tuntas. Bahwa yang diinginkan bukan jabatan an sich, melainkan mesti ada objek lain di balik apa yang diperebutkan. Objek lain itu mungkin mewujud dalam bentuk kekayaan dan kekuasaan. Ringkasnya, objek yang dihasratkan itu di gapai melalui jalan putar (mediator) yang ruwet dan rawan.Ruwet karena ia melintasi jalan putar yang berbenturan dengan pihak lain. Kemudian rawan karena benturan itu mau tak mau menyulut api rivalitas.
     Celakanya jika hasrat itu menggoda seorang pejabat publik. Katakan saja dalam periode jabatan tertentu, apabila objek itu tidak berhasil digapai melalui jalur yang benar, kecerobohan bisa terjadi. Tindakan korupsi sebagai sebuah jalan pintas pun sangat mungkin ditempuh di sini. Pada tahap ini, pejabat mulai lupa bahwa politik bukanlah perihal bisnis pribadi, melainkan seni mengatur kepentingan rakyat. Dalam hal ini, tindakan korupsi terjadi karena pribadi bersangkutan lupa akan dirinya sebagai pejabat publik yang untuk sementara waktu bekerja demi kesejahteraan bersama. Sebaliknya, bukan kemakmuran parpol, juga bukan partai-partai koalisi apalagi pribadi.
     Dengan demikian, dengan mengacu pada Mimetic Desire Girard, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa dalam realitas korupsi keuangan negara, jabatan merupakan kendaraan yang baik (baca: mediator) untuk mewujudkan hasrat tertentu. Jabatan pemerintahan merupakan objek yang menggoda dan potensial dihasratkan oleh para politikus untuk tujuan-tujuan khusus (bisa positif atau negatif).
     Pada lingkup makro, contohnya, saat ini anggota DPR dikhawatirkan tidak bekerja maksimal karena konsentrasi mereka mulai terarah pada pembenahan parpol menuju Pilpres 2014. Kesibukan-kesibukan di gedung DPR perlahan diabaikan. Kebanyakan sibuk dengan urusan-urusan partai. Sebagian anggota dewan memang lebih identik dengan wakil partai daripada wakil rakyat.
     Dengan ini, kebijakan-kebijakan politik direduksi, misalnya, dalam bentuk politik pencitraan--sebuah trik jitu memenangi simpati rakyat. Jika kita mencermati realitas lokal, kita akan tiba pada kesimpulan serupa bahwa politik pencitraan tidak hanya terjadi di lingkup pemerintah pusat, tapi juga di tingkat lokal. Apa yang terjadi di pusat diadaptasi ke dalam konteks lokal. Dalam situasi seperti ini, dengan bantuan teori Rene Girard, homo economicus lalu dipahami para ekonom bukan melulu sebagai makhluk yang secara ekonomi bisa berhitung rasional, tapi juga makhluk yang memperjuangkan kepentingannya karena meniru keinginan dan hasrat sesamanya (Sindhunata).
     Pada lingkup mikro, korupsi di tingkat lokal boleh saja terjadi, karena orang coba meniru gaya hidup orang lain. Belum lupa, kan kisah pengadaan mobil mewah untuk para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II (Januari 2010) dan berikut kebijakan wakil rakyat (DPRD NTT) untuk mengadakan laptop bagi anggota dewan (Juli 2010)? Mobil dan laptop merupakan simbol kemewahan yang dihasratkan.
Jelas di sini. Kerap wakil rakyat lebih memperhatikan kesejahteraan diri sendiri (hasrathasrat pribadi dan golongan). Padahal banyak persoalan besar kian melukai nurani publik. Tapi, persoalan, seperti kemiskinan di daerah, tak banyak menyita perhatian pemimpin publik untuk dicarikan solusi yang tepat.

Kegelisahan kolektif
     Apa yang baru di balik penanganan praktik-praktik koruptif belakangan ini? Tidak ada hal baru. Hanyalah kegelisahan bersama. Kegelisahan itu bisa terwujud dalam beberapa cara, diskusi, unjuk rasa, dll.
Aksi-aksi tersebut sangat menarik dan amat mendasar. Mengapa mendasar? Dua alasan bisa disebutkan. Pertama, aksi unjuk rasa bisa lahir karena suara wakil rakyat tak lagi lantang dan tajam. Mestinya wakil rakyat merasa malu karena aksi massal berupa unjuk rasa dan doa serta puasa bersama di jalanan merupakan sinisme terhadap keberfungsian para `penghuni' gedung DPR.
     Kedua, para penegak hukum dalam kinerjanya memberi kesan penanganan kasus korupsi sering berbelit dan jalan di tempat. NTT merupakan sebuah contoh. Beberapa persoalan (terkesan) perlahan lenyap dari ingatan kolektif. Sebut saja kasus sarana kesehatan di RSUD WZ Yohannes Kupang senilai Rp13,5 miliar (penyidikan dihentikan oleh Polresta Kupang) dan korupsi sarana kesehatan di RSUD Larantuka senilai Rp6,5 miliar. Lalu saat ini, publik Sikka dihadapkan pada proses penanganan kasus korupsi dana bantuan sosial senilai Rp10,7 miliar. Apakah kasus-kasus tersebut bakal diproses sampai tuntas?
     Sekali lagi nurani publik kian tersayat karena `kejahatan' pemimpin-pemimpin yang notabene dipilih langsung oleh rakyat. Untuk itu, mereka yang saat ini memberanikan diri maju bertarung merebut kursi kepemimpinan daerah kiranya jangan mengabaikan masa lalu. Sebab, pejabat-pejabat kita yang saat ini terpaut persoalan  korupsi gagal becermin pada masa lalu daerah sendiri.
     Publik tentu tidak lupa dua hal ini. Pertama, pada 2006, Transparency International (TI) Indonesia meluncurkan IPK (Indeks Persepsi Korupsi) Indonesia terhadap 32 kabupaten/kota, salah satunya adalah Maumere. IPK untuk Maumere sebesar 3,52 (paling rendah daripada kabupaten/ kota lainnya). Hasil riset tersebut menunjukkan tingginya tingkat korupsi di Maumere.
     Kedua, pada awal 2009, TI Indonesia melalui hasil risetnya yang ke-3 mengumumkan `Kupang kota terkorup'. Upaya penyelesaian kasus-kasus penyelewengan melalui jalur hukum memang telah ditempuh. Akan tetapi, kerap koin penegakan hukum digelindingkan, dan pelaku kejahatan memanfaatkan celah undang-undang atau membuat modus baru yang belum terantisipasi. Pelaku kejahatan sangat lihai.
     Akhirnya, mengingat potensi kelihaian pelaku kejahatan korupsi dan hasrat terselubungnya, audit kekayaan serta keuangan pejabat tinggi negara perlu diperketat dan dilakukan secara intensif. Itu bentuk pengawasan yang bisa membunuh hasrat liar seseorang, sebelum dan selama ia berada dalam bilangan pejabat publik.***

Selasa, 10 Mei 2011

Pria Miskin, Perempuan Sakit, Segelas Susu dan Air Mata Kebahagiaan



Pria Miskin, Segelas Susu, Perempuan Sakit,  dan Air Mata Kebahagiaan

Suatu hari, seorang
pria miskin yang menjual
asongan  dari  pintu ke pintu
untuk membiayai hidupnya, sadar bahwa di kantongnya
hanya tersisa beberapa sen  uangnya, dan dia sangat lapar.

Pria tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari
rumah berikutnya. Akan tetapi
pria itu kehilangan keberanian saat
seorang wanita muda  membuka pintu rumah.
Anak lelaki itu tidak jadi meminta
makanan, ia hanya berani  meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki
tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia  membawakan segelas besar
susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan  kemudian bertanya,
“Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?"
Wanita itu  menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami
mengajarkan untuk  tidak menerima bayaran untuk kebaikan"
, kata
wanita itu menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan
berkata :" Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut  mengalami sakit
yang sangat kritis. Para dokter di
kota itu sudah tidak sanggup
menanganinya.

Mereka  akhirnya mengirimnya ke kota besar, di
mana terdapat dokter
spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.
Pada
saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut,
terbersit
seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan
bergegas turun melalui hall  rumah
sakit, menuju kamar si wanita
tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.

Ia langsung mengenali wanita itu pada pandang
an pertama. Ia kemudian
kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya
terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia
selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh
kemenangan... Wanita itu sembuh !!.
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan
seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas
lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat
yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun
harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut,
dan ada sesuatu yang menarik perhat
iannya. Pada pojok atas
lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi... "Telah
dibayar
lunas dengan segelas besar susu !!", tertanda, DR. Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: "Tuhan,
terima
kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati
dan tangan manusia."

Sebab itu, “Masuklah melalui pintu gerbangNya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataranNya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepadaNya dan pujilah namaNya! Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya dan kesetiaanNya turun-temurun.” (Mzm 100: 4-5)

Minggu, 08 Mei 2011

Surat Seorang Ibu untuk Seorang anak....


Cintailah Ibu Dengan cara dan cinta yang istimewa...
Aku mempunyai ibu yang hebat.
          Beliau menyayangiku dengan sepenuh hatinya.
      Beliau berkorban dan membantu aku dalam segala hal.
     Hari ini, wanita yang hebat itu telah kami semadikan untuk
                        selama-lamanya.
 Dapatkah anda bayangkan perasaanku apabila suatu hari aku pergi
                               ke  rumah ibuku, aku telah terjumpa sajak ini terlipat sepi di
dalam laci mejanya?  Sajak nya berbunyi begini.

                             ***---***

                    INILAH MASANYA

               Jika kau ingin mencintai ibu
                  Cintalah ibu sekarang
                      Supaya ibu tahu
           Keindahan dan kelembutan kasih
         Yang mengalir dari sanubarimu
                  Cintalah ibu sekarang
                Semasa ibu masih hidup

        Jangan tunggu sampai ibu telah pergi
        Kemudian barulah diukir di batu nisan
  Dengan kata-kata indah pada sekujur batu yang
                              sepi
    Jika kau memiliki ingatan manis buat diri ibu
           Tunjukkanlah pada ibu sekarang
 
          Jika kau tunggu sehingga ibu mati
       Sudah pasti ibu tidak dapat mendengar

            Kerana kita dibatasi kelemahan
             Oleh itu, jika kau mencintai ibu
      Walaupun hanya secebis dari lautan
                           hidupmu
            Lafalkan dan buktikan sekarang
               Sementara ibu masih hidup
  Agar ibu dapat menikmati dan menyanjunginya

                             ***---***

 Sekarang ibu sudah pergi dan aku menderita dengan rasa bersalah
                             sebab
 aku tidak pernah menyatakan betapa besar nilai ibuku selama
ini.
    Malah aku tidak pernah melayani ibuku dengan sewajarnya.
   Aku layani semua orang untuk semua urusan, tetapi aku tidak
                             pernah
        meluangkan masa yang cukup untuk ibuku sendiri.
   Sebenarnya aku mampu menuangkan air ke dalam cawannya,
            kemudian memeluknya ketika bersarapan,
      tetapi aku telah mengutamakan urusan rekan-rekanku.
       Pernahkah rekan-rekanku melayaniku seperti ibuku?
                      Aku tahu jawabannya.
  Apabila aku menelpon ibu, aku senantiasa lakukan dengan cepat,
                    ringkas dan tergesa-gesa.
                  Aku benar-benar merasa malu
   apabila mengingatkan tindakan masa lampauku terhadap ibu.
  Aku masih ingat berapa banyak waktu yang aku berikan padanya
     dan banyak kali aku biarkan dia begitu saja.

  Anak-anakku sayang akan nenek mereka sejak mereka kecil lagi.
     Mereka mengunjunginya untuk mendapatkan nasihat dan
                          ketenangan.
                    Nenek memahami mereka.
   Aku sadar dan mengerti sekarang bahwa aku terlalu kritikal,
        sensitif dan terlalu susah untuk menghargai nenek
   yang telah mencurahkan kasih tanpa syarat kepada cucunya.

       Dunia ini dipenuhi oleh anak-anak sepertiku.
  Aku berharap mereka insaf dan mendapat manfaat dari
                           surat ini.
 Aku sudah terlambat dan kini aku sedang dilanda derita
 dan penyesalan yang tiada penghujung dan nokhtahnya.

Sabtu, 07 Mei 2011

Memberi dan tak pernah menyesal karena memberi...

Memberi.....


Ada Orang yang memberi sedikit dari banyak harta yang dimilikinya;
itupun diberikannya agar mendapat  penghormatan. Keinginan tersembunyi itu
menjadikan pemberiannya tidak utuh.

Ada orang yang hanya memiliki sedikit, dan itu semua diberikannya .
Orang-orang semacam ini adalah orang yang percaya akan daya kehidupan, dan
mereka tidak pernah kekurangan.

Ada orang yang memberi dengan gembira,
dan kegembiraan itulah ganjaran baginya.

Ada orang yang memberi dengan sedih,
dan kesedihan itu merupakan pembaptisan baginya.

Ada orang yang suka memberi dan tak kenal menyesal dalam memberi bila ia
memberi.
Ia tidak mencari kegembiraan dan juga bukan mengejar keutamaan.
Ia memberi, seperti bunga-bunga di lembah menyebarkan keharuman.
Lewat tangan-tangan orang-orang itulah Allah berbicara, dan dari balik
mata mereka Ia tersenyum kepada Dunia.

                                                                                   - Khalil Jibran -

Minggu, 01 Mei 2011

Sungai Kehidupan...



Mengalir bersama sungai kehidupan
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".

Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit.
Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".

"Penyakitmu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.

"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup.
Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah.
Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !