Selasa, 12 April 2011

PETITE HISTOIRE MATALOKO

“Tanpa buku, pendidikan akan  mati

Sejarah kecil  dari Mataloko. Ini adalah riwayat lahirnya sebuah sekolah di kampung. Namanya Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans – Mataloko. Letak Sekolah ini lebih kurang 15 km arah timur kota Bajawa.  Sekolah menengah ini berdiri pada 15 September 1929. Saat itu, fokus pendidikan sekolah ini mengedepankan buku sebagai sumber kecerdasan. Monsinyur Arnold Verstraelen, SVD menggagas berdirinya lembaga pendidikan ini di tengah situasi perang.
Konon, pemerintah Belanda mengeluarkan kata-kata sinis terhadap Arnold Verstraelen. Pemerintah Belanda bilang, ”Monsinyur, apakah anda sadar atau tidak? Anda memberikan pendidikan untuk orang-orang pribumi setingkat dengan anda punya pendidikan.  Apakah anda tidak membuat perhitungan? Nanti suatu saat mereka sudah pintar, mereka tendang kasi keluar anda dari tempat ini.” Orang-orang pribumi pun turut mencibir perjuangan untuk membangun sekolah ini.
Arnold Verstraelen menjawab suara sinis pemerintah Belanda itu demikian, ”Justru tujuan kami ada di sini adalah mendidik orang-orang di kampung. Kalau mereka sudah berdiri sendiri kami akan angkat kaki meninggalkan mereka dan pergi ke tempat lain.”
Sejak awal banyak tantangan menghadang. Seperti itulah kisah awal. Bahwa untuk memulai sesuatu yang ”tidak masuk akal” dibutuhkan keberanian. Karena itu, misi untuk membangun pendidikan orang-orang pribumi tetap diupayakan dan diwujudkan. Orang-orang pribumi mesti dididik untuk berani memimpin diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka harus berani melawan keadaan mereka yang buta huruf. Karena keberanian Verstraelen, maka sebuah sekolah sederhana mulai dibangun di kaki bukit-bukit Mataloko.
 Dalam perjalanan, tantangan tetap ada. Misalnya, orang-orang Mataloko pada tahun-tahun awal usia sekolah ini, mengatakan, ”sekolah macam apa ini? Su 10 taun ju belum tau ujung pangkalnya. Kalau sekolah di tempat laen, hanya dua taun sa orang su jadi guru”.  Tapi prinsip dalam diri para pendidik saat itu adalah mengejar kualitas dan bukan kuantitas. Caranya memacu orang-orang pribumi untuk menekuni buku, belajar menulis dan belajar berhitung. Sebab ada keyakinan bahwa dengan membaca, menulis, dan berhitung orang bisa menjadi cerdas, kreatif dan kritis.
*           *          *
Hingga detik ini, semangat mencintai buku dan atmosfir menggenggam buku di berbagai lorong masih dipertahankan di Seminari Mataloko. Guru-guru dan para siswa tetap mencintai buku. Kini komunitas Seminari Mataloko memiliki perpustakaan dengan koleksi mencapai 12.000 judul buku, tidak terhitung buku-buku berbahasa asing (Polandia, Mandarin, Jerman, Belanda dan Inggris) dan koleksi buku bahasa Inggris di English Room.
Romo Nani (Yohanes Moses Songkares, Pr) yang mengelola perpustakaan ini, bersaksi bahwa ia pernah menjadi begitu kecewa karena pada suatu waktu seorang guru mengumpulkan buku-buku klasik dan membakar. Ini pemandangan yang sangat lucu tapi nyata. Pengalaman itu memotivasinya untuk merenovasi perpustakaan dan mengelolanya secara besar-besaran pada 1998. Mengingat jumlah siswa semakin banyak dan minat baca siswa cukup tinggi, maka berbagai jenis buku seperti sastra, ilmu pengetahuan populer, kamus dan ensiklopedi mesti ditambahkan dalam daftar koleksi. Dengan ini respon positif datang dari berbagai pihak, misalnya; Komisi Kateketik KWI - Jakarta, O’loughlin  College - Darwin (Australia), American Women Association dan Catholic Truth Society di London, serta bantuan dan perhatian yang sangat berarti datang dari pemerintah daerah.
Romo Nani juga berkisah bahwa Perpustakaan di Seminari Mataloko ini cukup berkesan. Suatu hari seorang pegawai utusan dari Kantor Wilayah DEPDIKBUD (Sekarang Dinas PPO) yang berkunjung ke Seminari, bertutur, ”Luar biasa. Perpustakaan ini sangat baik bila dibandingkan dengan perpustakaan di sekolah-sekolah negeri yang ada di kabupaten Ngada bahkan di NTT.” Sedangkan Kepala Kantor DEPDIKBUD Ngada (1998) menegaskan, ”Pada saatnya perpustakaan ini menjadi contoh perpustakaan untuk sekolah dan masyarakat luas di wilayah Ngada.”
Kalau dikatakan luar biasa, itu hal yang benar, sebab pengadaan buku-buku dan semangat menekuni buku bukan ide yang baru digagas. Ide dan semangat ini sudah merupakan fondasi bagi sekolah ini sejak tahun 1930-an, ketika orang-orang pribumi di Flores mulai belajar di tempat ini.
 Romo Nani berkomentar bahwa otak mesti diasah terus-menerus.  Caranya adalah membaca buku. Dengan membaca kita menjadi cerdas. Ia menambahkan, ”Tak terbayangkan Flores mau jadi apa kalau tak ada campur tangan orang-orang dari Eropa dengan keberaniannya membangun rumah pendidikan di Flores, khususnya di Mataloko ini. Kalau sekolah ini tanpa budaya membaca yang diwariskan, maka keadaannya tidak seperti saat ini.”
Bahwa dengan budaya membaca yang kuat dan atmosfir cinta buku yang sangat hidup, maka banyak alumni dari sekolah ini bisa mengabdikan diri untuk Nusa dan Bangsa. Ada yang bekerja sebagai wartawan, ada yang sebagai sastrawan, ada yang sebagai ilmuwan, ada pula sebagai dosen di berbagai universitas,  dan penulis buku. Semuanya itu merupakan hasil dari jalan pendidikan yang mengedepankan buku sebagai sumber kecerdasan. Ini merupakan sebuah model pendidikan berbasis buku yang ditanam di Seminari Mataloko sejak awal dan dipertahankan hingga hari ini. Bahwa tanpa buku, pendidikan akan  mati.
Hingga hari ini, kehidupan komunitas seminari menengah ini tetap berada di kampung. Siswa-siswanya berjumlah 440 orang pada tahun ajaran 2009/2010. Jumlah yang cukup banyak di hadapan jumlah guru yang sangat sedikit yakni 36 orang. Toh demikian, perjuangan masih dibutuhkan. Kami masih jauh dari dunia internet. Kami juga jauh dari kabel-kabel telepon rumah. Tetapi kami bangga karena kami begitu menyatu dengan buku. Kami bangga dengan siswa-siswa kami yang punya minat sangat baik dalam hal membaca buku. Kami percaya dengan buku kami turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjelajah dunia. Karena itu tiada hari tanpa membaca (buku). Ini adalah jalan pendidikan yang menghargai proses. Hasilnya kami selalu menjadi terbaik. Ketika banyak sekolah mengalami kemerosotan dalam prosentasi kelulusan, kami selalu meraih hasil Ujian Nasional dengan kelulusan 100% dari tahun ke tahun. Kami memahami ini karena kami tahu bahwa pendidikan yang sesungguhnya mesti didasarkan pada buku-buku berkualitas, demikian kata seorang guru pada satu kesempatan.
Kini dunia Mataloko dikenal luas sebagai pusat belajar. Guru-guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris sering berkumpul di Mataloko untuk Belajar bersama. Begitu pun siswa-siswa dari berbagai sekolah datang ke Seminari untuk belajar. Mengapa? Alasan paling sederhana, di tempat ini para siswa menemukan atmosfir belajar yang sangat mendukung. Setiap hari, ratusan siswa menyerbu perpustakaan untuk meminjam dan mengembalikan buku, atau memasuki ruang referensi untuk menghabiskan waktu luang demi membaca. Suasananya memang apa adanya, namun buku-buku asing dan buku-buku berbahasa Indonesia telah disiapkan sebagai medan jelajah siswa.
Selain buku, lembaga ini menciptakan suasana belajar yang setara bagi guru dan siswa. Guru dan siswa duduk setara dan belajar memecahkan kesulitan yang dijumpai. ”Pada akhirnya kami berharap, agar siswa-siswa kami tetap menekuni buku dan jangan pernah takut teks. Kami juga berharap agar apabila ada dana yang cukup, kami bisa membangun lagi ruang khusus untuk taman baca bagi masyarakat luas yang hendak belajar di tempat ini.” Viva Mataloko!

Tidak ada komentar: