Rabu, 27 April 2011

Muchas Grachias Lionel Messi...Tu eres el mesias...


Barcelona talisman Lionel Messi scored two late goals to put his side in control of their bad-tempered Champions League semi-final against Real Madrid (28//04/11).
The goals came after Real's Pepe was dismissed in the 61st minute and boss Jose Mourinho was sent to the stands soon after for his protestations.
That seemed to turn the tide in Barca's favour and they went ahead when Messi turned in Ibrahim Afellay's cross.
Messi then added a fabulous second when he ran 30 yards before slotting in.
It was a glorious way to score his 11th goal in 11 Champions League games and by doing so made his side firm favourites to go through to the 28 May final at Wembley.
Up until he scored his first goal in the 76th minute, Messi was operating around the fringes of Real's final third, which was difficult to breach for much of the match.
The visitors only managed to break clear of the snapping Real defence on a couple of occasions during the first half.
Xavi's firm but telegraphed shot was well held by Iker Casillas, who was left floundering when David Villa's low, whipped shot from 20 yards beat him but also the right-hand post.
The Spain keeper then came to the home side's rescue when he dived low to block a Villa shot after Messi had played a threaded reverse ball to the striker.
Real were content to sit back and frustrate their visitors, much to the annoyance of their own lone forward Cristiano Ronaldo.
His supply line was virtually non-existent as Mesut Ozil, Xabi Alonso and Angel di Maria were occupied with defensive duties.
So when Real did finally test Victor Valdes, it needed Ronaldo to drop deep, pick up the ball and then venture forward before launching a trademark long-range drive that the Barca keeper did well to parry away.
Goalmouth action was scarce in the opening half but on-the-ball and off-the-ball incidents were not, as many had predicted.
Referee Wolfgang Stark kept a cool head while the melodramatics unfolded around him, but his resolve was finally broken when, after the half-time whistle, there was a fracas on the touchline as the players were leaving the field, which resulted in Barcelona substitute keeper Jose Pinto being shown a red card.
It was still 11 v 11 on the pitch after the interval, but Real were soon reduced to 10 when the influential Pepe was sent off for a high tackle on Dani Alves.
Real coach Mourinho, who was seen to mouth sarcastically "well done" to the fourth official and was subsequently dismissed himself, now faced a defensive problem.
Before he had time to put a new structure in place, Villa was in again to test Casillas with an angled shot that was brilliantly palmed away.
The 10 men of Real appeared to be holding out, if not entirely comfortably, until the magnificent Messi made his move.
The pacy Afellay, who came on for the injured Pedro, sped down the right and played an inviting square ball into the area which Messi reached ahead of Sergio Ramos and tapped in at the near post.
Despite conceding an away goal, Real would have considered themselves to be still in the tie. But then Messi struck again with pure brilliance.
The Argentine forward picked up the ball midway inside the Real half, skipped past Lassana Diarra, Raul Albiol and Marcelo before slotting in his 52nd of the season and what could prove to be the decisive goal of the tie (http://news.bbc.co.uk/sport2/hi/football/13191779.stm).

Rabu, 13 April 2011

Apakah anda sudah berdoa BAPA KAMI secara benar?

DOA BAPA KAMI
*Bagaimana kita berdoa BAPA KAMI YANG
ADA DI SURGA,
 jika di dunia kita malu mengaku diri sebagai anakNya?
*Bagaimana kita berdoa DIKUDUSKANLAH NAMAMMU,
 jika perbuatan kita tidak mencerminkan kekudusanNya?
*Bagaimana  kita berdoa DATANGLAH KERAJAAN-MU,
 jka kita  menghindari panggilanNya?
*Bagaimana kita berdoa JADILAH KEHENDAKMU DI
BUMI 
 SEPERTI DI
SURGA,
 jika kita menuntutNya bertindak dan memberikan
 sesuai kemauan kita sendiri?
*Bagaimana kita berdoa BERILAH KAMI PADA HARI INI
 MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA,
 jika kita memaksa  diri mengambil lebih dari bagian
 kita?
*Bagaimana   kita berdoa DAN AMPUNILAH KAMI AKAN
 KESALAHAN KAMI,
 jika kita merasa diri kitalah yang paling benar?
*Bagaimana kita berdoa SEPERTI KAMI SUDAH MENGAMPUNI
 ORANG YANG BERSALAH KEPADA KAMI,
 jika kita menyimpan kesalahan orang lain?
*Bagaimana kita berdoa JANGAN MEMBAWA KAMI KE DALAM
 PENCOBAAN,
 jika kita tetap kompromi terhadap dosa?
*Bagaimana kita berdoa TETAPI LEPASKANLAH KAMI
 DARIPADA YANG JAHAT,
 jika kitalah yang mengundang roh jahat masuk dalam
 hidup kita?
*Bagaimana kita berdoa SEBAB ENGKAULAH YANG EMPUNYA
 KERAJAAN DAN KUASA DAN KEMULIAN SAMPAI
SELAMA-LAMANYA,
 jika kita menganggap harta, kekuasaan, dan ketenaran
 sebagai hasil usaha kita sendiri...
*Bagaimana kita berdoa AMIN,
 tapi hati kita tidak mempercayai Tuhan bahwa apa yang
 terbaik pasti terjadi dalam hidup kita?
*Bagaimana mungkin kita merasa BERDOA kepada Tuhan,
 jika kita sedang menjadikan diri kita sebagai
 tuhan?

KEEP YOUR HEART!!!!
GBU ALL.....
 

Separuh Minggu di Kemah Tabor


SORE itu, Rabu (22/9/2010). Hujan tak hentinya mengguyur Mataloko, Ngada. Sebanyak 26 pembina yang berasal dari ke-8 Seminari Menengah di Flobamor memasuki Rumah Retret Kemah Tabor, Mataloko.

Cuaca yang dingin dan kabut yang tebal tidak mengurungkan niat para formatores untuk menghadiri pertemuan tahunan itu. Demi masa depan para seminaris, mereka rela datang dari tempat yang relatif jauh. Berbekal semangat dedikasi yang tinggi, mereka pun sudi menembus tebalnya kabut sembari menepis dingin yang selalu menggigit.

Tampak dari arah timur, Rm. Bone Viator dan Rm. Datus Du'u, bersama sopir kijang memasuki kompleks Kemah Tabor yang sejuk, tapi sepintas terkesan sepi. Rm. Datus dan Rm. Bone adalah utusan Seminari Menengah Sta. Maria Bunda Segala Bangsa-Maumere.

Beberapa menit berselang, tim pembina dari Seminari Pius XII Kisol-Manggarai Timur, meluncur dari arah barat. Mereka langsung memasuki Kemah Tabor. Tim dari Kisol adalah Rm. Emil, Rm. Os Harjo, dan Rm. Don. Ketiga romo bersama om Bento-sang sopir,  disambut hangat oleh Fr. Elwin, O.Carm yang setia menunggu di beranda Kemah Tabor. Sesudah melakukan check in, mereka dihantar menuju kamar masing-masing.

"Utusan-utusan dari Seminari Oepoi dan Lalian, Sumba dan Labuan Bajo sudah tiba lebih dulu. Yang belum tiba, utusan dari Seminari Hokeng," demikian komentar Fr. Elwin memberi informasi seadanya.

Pertemuan dibuka dengan perayaan ekaristi bersama pada sore hari. Sesudah ekaristi, kegiatan selanjutnya adalah makan malam bersama. Suasana kekeluargaan terasa sangat kental, ketika para pembina mulai menikmati makan malam seadanya sambil berbagi kisah. Acara pertama yang dilewatkan para peserta di malam yang dingin itu adalah perkenalan singkat tentang masing-masing seminari.

Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko, yang menjadi tuan rumah pertemuan tahun ini, merupakan seminari tertua di regio Flobamor. Tahun ini, seminari yang terletak tepat di kaki Bukit Sasa itu merayakan HUT-nya yang ke-81. "Kami di Mataloko sangat memperhatikan kerja sama dengan para guru awam dan juga kerja sama dengan pemerintah daerah. Itu yang menjadi kekuatan bagi kami dalam berkarya," kata Rm. Bene Daghi, selaku Praeses, saat memperkenalkan Seminari Mataloko kepada forum.

Pertemuan tahun ini bertemakan "Bimbingan Rohani Untuk Para Seminaris". Selain membicarakan perihal bimbingan rohani, topik lain yang dibicarakan adalah Juknis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2010 dan pengukuhan koordinator baru Persekutuan Seminari Menengah Regio Flobamor untuk periode 2010-2013.

Kesulitan
"Pada prinsipnya bimbingan rohani merupakan hal prinsipiil yang mesti diperhatikan secara serius dalam lembaga pendidikan calon imam. Karena itu sejak berada di seminari menengah, seorang seminaris sudah harus memiliki kematangan rohani," kata Rm. Yustus Ati Bere, Praeses dan Kepala Sekolah Seminari Lalian.

Dalam sharing pengalaman di Aula Kemah Tabor itu, hampir seluruh peserta menyampaikan bahwa kesulitan utama yang dialami dalam pendampingan rohani seminaris adalah ketiadaan tenaga khusus untuk menangani kebutuhan spiritual. Kesulitan lain adalah membuat pembagian waktu yang efektif untuk bimbingan rohani. Apalagi sebagian besar pembina adalah guru yang mengampu bidang studi tertentu di sekolah. Misalnya ada pembina yang beban mengajarnya mencapai 40-an jam per minggu. Karena itu, praktis hampir tidak ada waktu untuk pertemuan personal demi kepentingan bimbingan rohani.

Tenaga pembina yang kurang di hadapan ratusan seminaris merupakan kesulitan yang sangat nyata. Dengan ini genaplah firman Tuhan, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." Karena itu, pertanyaan penting pada kesempatan diskusi adalah bagaimana strategi yang mesti ditempuh untuk mengatasi hal ini?

Kesulitan lain lagi diungkapkan oleh peserta asal seminari Kisol, Rm. Os Harjo, Pr. Ia berceritera bahwa kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana membedakan secara tegas soal bimbingan rohani dan bimbingan konseling. "Ini kesulitan kami maupun kesulitan siswa," tegasnya.

Menanggapi kesulitan-kesulitan itu, Rm. Sypri Sande, Pr, Ketua Persekutuan Seminari Regio Flobamor memberi beberapa catatan. "Roh Kudus itulah yang menjadi pembimbing spiritual bagi para seminaris. Ke mana Roh Kudus bergerak, kita tidak tahu. Program-program rohani itu kita siapkan sebagai medan bagi siswa memberi diri untuk dibimbing oleh Roh Kudus. Kita menciptakan suasana seminari yang berciri spiritual. Kita mengikuti kata-kata Bapak Uskup Agung Ende, yakni membuat program yang relevan dengan keadaan siswa. Yang kita buat selama ini pada dasarnya baik untuk para siswa menjawab panggilannya menjadi imam.

Pertemuan pada hari kedua itu ditutup dengan refleksi biblis yang dibimbing oleh Rm. Sypri Sande.  Pada siang itu, tampak kabut tebal merayap menutupi Bukit Sasa dan gerimis tak hentinya membasahi Mataloko. Meski hujan dan dingin mengiring langkah para pembina, semangat berdiskusi mencari jalan terbaik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu tidak luntur. Suasana akrab dan bersemangat serta canda selalu mewarnai diskusi. Kadang forum dipaksa tertawa karena gaya sharing P. Yulius Bere, SVD (Praeses Seminari Oepoi - Kupang) yang selalu mengundang tawa. Pater Yulius sudah tua, tapi ia tetap bersemangat berdiskusi demi masa depan para calon imam di Flobamor.

Para peserta terus bertukar pikiran tentang hal-hal seputar kehidupan para seminaris Flobamor, meski kadang rasa lelah terpahat pada wajah mereka. Jumat, 24 September 2010 pertemuan itu berakhir dengan pengukuhan P. Yulius Bere, SVD sebagai koordinator baru Persekutuan Seminari Menengah Regio Flobamor. Sore harinya, keseluruhan acara akhirnya ditutup dengan perayaan misa bersama di Kapela SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko. Viva Seminari Menengah Regio Flobamor! (Milto Seran) ***

*Diterbitkan Harian Umum Pos Kupang, Kamis, 30 September 2010 

Selasa, 12 April 2011

Sebatang Korek Api



Sebatang Korek api hanya menyala satu kali. Nyalanya tidak lama. Satu menit pun terlalu lama. Hanya beberapa detik menyala, kemudian lenyap. Sesaat memberi sinar di tengah gelap, sesaat juga ia dapat menyalakan sejumlah lilin.
Hidup pun demikian adanya. Hidup kita hanya satu kali. Hidup kita juga singkat. Lamanya hidup kita juga tidak dapat diperhitungkan. Nyala api pada Sebatang korek api dapat mati juga sebelum api membakar habis dirinya. Dalam umur yang masih muda, hidup manusia pun bisa berakhir.
Namun hidup seorang manusia yang singkat ini bisa bermanfaat bagi seseorang, beberapa orang, bahkan banyak orang. Hidup dapat kita gunakan untuk mendorong dan memotivasi orang seperti sebatang korek yang dapat menyalakan sejumlah lilin.
Sudahkah hidup kita bermanfaat bagi yang lain?
Tuhan memiliki rancangan tersendiri atas hidup masing-masing kita. Ia bersabda, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberi hari depan yang penuh harapan.”

Bongkar “Teologi”, Lawan Stigma dan Diskriminasi

(Sebuah Strategi menghentikan Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA)
Oleh Kamilus Seran*
                                                                                              
Pemahaman masyarakat Maumere mengenai HIV/AIDS tidak memadai. Karena itu, ada tendensi untuk menghubung-hubungkan kasus HIV/AIDS dengan hal ikhwal perzinahan. Lebih lanjut, HIV/AIDS dipandang sebelah mata sebagai penyakit kaum pendosa (PSK, Waria). Fenomena sosial ini pada akhirnya melahirkan sebuah stigma bahwa HIV/AIDS tertular hanya melalui perzinahan dengan para PSK. Pertanyaannya, apa akar persoalannya dan bagaimana menyelesaikan persoalan yang dimaksud? Tulisan ini bertujuan menjawab pertanyaan tersebut.
“Orang-orang Flores khususnya dan NTT umumnya berpandangan bahwa HIV itu menular hanya melalui hubungan seksual (biasanya hubungan seksual pra-nikah atau di luar nikah). Mereka itu berdosa karena melakukan zinah. Kesimpulannya jelas. Mereka tertular HIV karena kutukan Tuhan. Seperti itulah pandangan umum orang Maumere (Flores dan NTT umumnya). Ini sebuah ‘teologi’ yang begitu kuat di kalangan masyarakat,” kata Drs. Lambert Dore Purek, direktur Humanity Institute For Economics And Social Rights / Aksi Cinta Kehidupan  (Wawancara penulis, 26/05/2009). Untuk diketahui, Lambert sudah giat mengkampanyekan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual serta HIV/AIDS melalui Aksi Cinta Kehidupan sejak 14 November 1994.
 Ia lalu berkisah bahwa pada tahun 2008, ada ODHA yang meninggal di Maumere. Semua pakaian, kasur dan tempat tidurnya dibakar. Hemat saya, ini merupakan sebuah diskriminasi sebagai akibat dari stigma (“teologi moral”)  terhadap ODHA. Stigma dan diskriminasi dapat terjadi sebagai akibat dari kurangnya informasi yang memadai mengenai HIV/AIDS. Untuk memerangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA pada ranah lokal (NTT), “teologi” tersebut mesti dibongkar.
“Teologi moral” yang dimaksud adalah teologi Kristen. Teologi moral Kristen (dengan dasar biblis) mengajarkan bahwa perkawinan merupakan bagian dari rencana Allah. Karena itu, ciri khas perkawinan seperti yang dilukiskan Kitab Suci adalah kesetiaan dan ketaatan absolute (Simon dan Christoper Danes; 2000, p. 49). Prinsipnya, Jangan berbuat zinah (Kitab Exodus 20:14). Bila seorang laki-laki melakukan perzinahan dengan istri sesamanya, baik ia maupun perempuan itu akan dihukum mati (Imamat 20:10). Ajaran teologi ini tidak dapat dibantah, benar dan merupakan dasar iman Kristen.
Akan tetapi, ada pandangan teologis yang mesti diluruskan (dibongkar) sehubungan dengan problematika seputar HIV/AIDS. Sebab dengan “dasar teologis” tersebut, masyarakat lokal di NTT memandang ODHA sebagai orang yang pantas menerima hukuman atau kutukan dari Allah. Alasannya, karena ODHA “pasti” melakukan zinah (misalnya, berhubungan seks dengan PSK). Terhadap perspektif ini, beberapa pertanyaan dapat diajukan. Apakah pandangan seperti itu dapat dibuktikan kebenarannya? Dengan pandangan seperti itu, apakah penularan HIV berarti terjadi  melulu karena perzinahan? Kebenaran pandangan itu tidak dapat dibuktikan. Selanjutnya, penularan HIV terus berlanjut, karena penularan melalui hubungan seks hanya satu kemungkinan. Hemat saya, “teologi” itu hanya memojokkan ODHA dan tidak memberdayakan ODHA. Teologi itu mungkin bisa mengubah moralitas ODHA, tetapi tidak membuat ODHA terbuka terhadap sesamanya dalam banyak hal. Karena itu, saya berpikir, untuk tujuan memerangi HIV/AIDS (bukan memerangi ODHA), langkah yang paling penting dan urgen untuk masyarakat lokal (NTT) saat ini adalah membongkar “teologi” yang memojokkan (menempatkan) penderita pada titik paling fatal. Korban menjadi tidak berdaya sama sekali karena ia pun menemukan dirinya sebagai makhluk kutukan, terdiskriminasi dan termarginalisasi.
Sementara itu, dalam lingkup yang lebih luas, saat ini persoalan yang dihadapi masyarakat lokal maupun global adalah mitos yang terus berkembang bahwa manusia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap HIV/AIDS (Bdk. Karl Miller, AIDS: 1990, p. 111). Mitos seperti ini kian kokoh ketika berhadapan dengan pandangan teologis tertentu yang selalu memarjinalisasi pihak korban. Itu sebabnya mereka yang menderita HIV/AIDS harus menjalani hidup dengan beban ganda. Di satu sisi, mereka mesti menanggung derita fisik yang tak tertahankan. Di sisi lain, beban stigma dan diskriminasi selalu menghantui hidup mereka. Korban menjadi sangat tertutup terhadap semua orang. Termasuk orang yang paling dekat sekalipun (sanak keluarga), korban tidak sanggup membagi pengalaman hidupnya. Beban hidup makin menindis. Pergaulannya dibatasi. Sayangnya, penularan HIV/AIDS justru paling rentan terhadap generasi muda (usia produktif). Peluang untuk mendapat pekerjaan tertutup. Untuk menjalani hidup sedikit lebih “aman”, ODHA cendrung memilih untuk mendiamkan penderitaannya (status HIV-nya).
Realitas ketertutupan tersebut sudah merupakan keprihatinan global dalam upaya memerangi HIV/AIDS. PBB sendiri pada tahun 2002 telah menyusun Strategi 10 Langkah untuk memerangi HIV/AIDS dengan melibatkan generasi muda. Langkah paling pertama adalah membongkar kebisuan stigma dan rasa malu. Persoalannya, de facto ketakutan yang mendalam akan cap negatif (stigma) dan diskriminasi membuat kaum muda enggan menjalankan strategi-strategi pencegahan seperti menggunakan kondom, melakukan tes HIV/AIDS, mengikuti pengobatan dan mengungkapkan status HIV mereka kepada pasangan seksnya (Generasi Muda dan HIV/AIDS; UNICEF, UNAIDS, WHO: 2002, p. 25).
Kenyataan seperti ini mestinya dibongkar dari akar permasalahannya. Pertanyaannya, apa yang menjadi fokus persoalan terkait masalah stigmatisasi dan diskriminasi? Sesudah melakukan wawancara langsung dengan direktur Aksi Cinta Kehidupan, saya menarik satu kesimpulan tentatif bahwa akar permasalahannya terletak pada cara pandang masyarakat. Orang-orang lokal (NTT) dengan basis religius yang begitu kuat selalu melihat masalah HIV/AIDS dari sisi tilik teologis yang mereka anut. “AIDS itu kan penyakit PSK dan Waria. AIDS itu penyakitnya kaum pendosa”. Mereka (PSK dan Waria) mendapat stigma karena mereka itu orang-orang najis. Dengan pola pandang seperti ini, ODHA dinilai sebagai orang berdosa (berzinah) yang pantas menderita dan menerima kutukan dari Tuhan karena ia tentunya menggauli para PSK. Padahal, dalam ketidaktahuan, orang-orang lokal tidak sadar bahwa cara pandang tersebut merupakan sebuah stigma.
Memang benar bahwa HIV menular lewat hubungan seks terutama mereka yang berganti-ganti pasangan seksnya. Namun, itu hanya sebuah kemungkinan penularan. Sebab, HIV dapat menular lewat jarum suntik, alat cukur, ibu hamil kepada embrio atau ibu kepada anak ketika melahirkan dan pemberian air susu ibu kepada bayi serta transfusi darah.
Setelah merefleksikan realitas sosial ini, saya menarik satu kesimpulan sementara bahwa kurangnya intervensi pihak gereja lokal dalam sosialisasi HIV/AIDS dan lemahnya regulasi pemerintah daerah turut memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Pertanyaannya, kapan beban psikis ODHA dapat diatasi, kalau kenyataannya “teologi” tersebut semakin mengakar dalam kehidupan bersama ODHA? Atau kapan ODHA bisa mengungkap persoalannya, kalau “teologi” itu selalu menjadi pegangan dalam kehidupan sosial? Siapa juga yang bertanggung jawab meringankan beban psikis ODHA? (Bdk. Reamer (ed.), AIDS and Ethics: p. 210-211). Apalagi saat ini, menurut laporan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah per Mei 2009, di Sikka – Maumere terdapat 125 kasus. 25 penderita adalah ibu rumah tangga. Yang meninggal 47 orang (Flores Pos, 20/05/2009).
Saya berpendapat bahwa komitmen untuk membedah kasus HIV/AIDS dari sudut pandang stigma dan diskriminasi, pertama-tama perlu muncul dari Gereja dan pemerintah lokal yang mengklaim diri (terpanggil) untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan publik. Dua institusi vital ini bisa bergerak secara bersama untuk memerangi masalah stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA. Alasannya, ODHA dalam relasinya dengan pemerintah adalah rakyat, sedangkan dalam relasinya dengan gereja, ODHA adalah umat. Apabila dua institusi tersebut aktif memainkan andil untuk memerangi HIV/AIDS dengan titik fokus pada persoalan stigma dan diskriminasi, maka pada satu sisi beban psikis ODHA dapat diringankan. Sementara itu implikasi positifnya adalah berbagai kebisuan, rasa malu dan ketertutupan bisa diatasi. Hal ini tentunya membantu misi kemanusiaan untuk mengurangi atau bahkan membendung penularan HIV/AIDS. Pada pihak lain, solidaritas sosial dengan ODHA bisa digalang, sehingga stigma dan diskriminasi tidak perlu ada di dalam kehidupan riil masyarakat.
Dengan demikian, rekomendasinya; untuk pihak Gereja lokal, sosialisasi HIV/AIDS dengan target membongkar pandangan teologis tertentu yang memojokkan pihak korban (ODHA) dapat dijalankan secara konstan dengan melibatkan kaum religius (para calon imam dan suster serta biarawan/biarawati); yang nota bene memiliki kemampuan berbicara memadai dan suaranya dapat didengarkan publik (umat). Sedangkan untuk pemerintah daerah kabupaten Sikka khususnya dan NTT umumnya (legislatif dan eksekutif), kini telah tiba saatnya untuk merancang regulasi yang memberi tempat yang layak bagi ODHA (Bdk. Widhartono, dkk. (Peny.), 22 Jurnalis Cerita Tentang Perempuan, Orientasi Seks & HIV/AIDS, p. 463). Yang dimaksudkan di sini bukan karantina. Sebab karantina secara terang-terangan menegaskan ODHA sebagai kelompok sosial yang dipisahkan dari masyarakat luas. Ini tetap membuktikan adanya bias diskriminasi. Rekomendasi ini penting, sebab peningkatan kesehatan masyarakat menempati posisi kedua dari 8 program yang dikumandangkan oleh Drs. Frans Lebu Raya (Gubernur NTT 2008-20013). 
 
Kamilus Seran, Alumnus STFK-Ledalero dan anggota KMK-L (Diterbitkan  HU FP, 14/08/2009)

Yang Datang untuk Mengabdi

(Merayakan Hari Kusta Internasional / 25 Januari 2010 )


Pada 27 Desember 2009 yang lalu, saya menerima sebuah pesan singkat dari dosen dan sekaligus teman diskusiku, Dr. Otto Gusti Nd Madung, SVD.  Kutipan langsung pesan singkat itu demikian, “The highest form of  spiritual work is the realization of the essence of man.” (Bentuk tertinggi dari karya roh adalah perwujudan esensi manusia). Sejenak saya berpikir bahwa mungkin pater Otto Gusti hanya ingin mengirim sebuah sms tanpa pretensi menuntut penerima sms untuk mempersoalkan isi sms tersebut. Akan tetapi, saya sadar bahwa pesan seperti ini jarang saya terima dari sesama kenalan dan sahabat-sahabatku. Karena itu saya memutuskan untuk menyimpan pesan tersebut dalam memori hand phone.
Pada saatnya, ketika berulang kali saya membaca sms tersebut, saya memahami bahwa hidup ini terus berlangsung dalam karya roh universal. Dan bentuk tertinggi dari karya roh, mengikuti sms pater Otto Gusti, adalah perwujudan esensi manusia. Pertanyaan saya adalah apa yang menjadi esensi manusia? Kesadaran merupakan jawaban atas pertanyaan ini. Bahwa manusia adalah makhluk yang berkesadaran.
            Untuk bisa hidup secara tulus dan benar, hal yang mutlak diperlukan adalah kesadaran yang total. Tanpa kesadaran penuh, maka yang terjadi dalam lingkup hidup seseorang adalah “chaos” (keadaan tidak harmonis).  Berbagai persoalan dalam kehidupan bersama, terjadi karena manusia hidup dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar; manusia tidak sadar akan apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia hindari serta manusia kerap tidak sadar akan dirinya sendiri.

Krisis kesadaran
            Bulan November tahun lalu, pater John Prior, SVD mengalami kecelakaan ketika sedang bersepeda di Maumere. Tak dinyana, seorang “Samaria” yang baik hati mengantar pater John ke RSUD TC. Hiller Maumere. Setibanya di UGD, dalam kondisi darurat pater John dan rekan-rekannya mesti menunggu  pelayanan medis selama 5 jam. Meski sudah menunggu sekian lama, satu-satunya pelayanan yang diterima pater John adalah layanan seorang petugas bagian rontgen. Karena keadaan ini darurat, maka pater John diantar lagi ke Rumah Sakit St. Elisabet-Lela untuk mendapat pelayanan medis yang lebih baik (PK, 20/11/2009).
            Mencermati kisah tentang pater John, saya berpikir bahwa keadaan seperti itu boleh jadi sudah lama terjadi dalam pelayanan medis di RSUD TC. Hiller. Namun, kali ini pater John sendiri mengalaminya dan pater John bukan tipe orang yang tinggal diam sesudah mengalami suatu pengalaman “luar biasa” seperti itu. Pater John sendiri mengungkapkan apa yang dialaminya dalam tulisannnya yang dimuat di harian umum ini.
Mengingat lagi kisah tentang pater John, saya berpendapat bahwa saat itu (entahlah saat ini), secara institusional RSUD TC. Hiller mengalami krisis kesadaran. Tepatnya para pelayan medis di bagian UGD tidak sepenuhnya sadar akan apa yang harus mereka lakukan pada jam dinasnya. Sudah sangat pasti, bahwa ketika itu para perawat yang seharusnya berada di UGD berada di tempat lain. Dengan demikian, tepat sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak sadar akan apa yang harus mereka lakukan saat itu.

Butuh dedikasi
            Di tengah krisis kesadaran dan semangat pelayanan sebagaimana yang diuraikan di atas, saya teringat dua “pahlawan” di bidang medis. Lebih tepat saya menyebut mereka sebagai “yang datang untuk mengabdi”. Keduanya adalah Izabela Diaz Gonzales (Mama Is) dan Gizela Borowka (Mama Putih). Secara total keduanya mengabdikan diri untuk para penderita kusta di Lembata dan Alor.
            Sejak 1968 hingga 1987, Mama Putih mengabdikan diri untuk para penderita kusta di Lomblen-Lembata. Dari Lembata ia bergerak menuju pulau Alor. Di Alor ia melanjutkan dedikasinya yang tanpa pamrih untuk kaum kusta. Mengikuti tokoh idolanya pater Damian (pelindung kaum kusta), yang tahun lalu telah dikanonisasikan oleh Paus Benediktus XVI, Mama Putih mengurung niat untuk kembali ke negerinya – Jerman. Ini merupakan sebuah bukti nyata pengabdian total untuk kaum kusta.
            Tak heran, pada 1980 Mama Putih menerima penghargaan tertinggi dari pemerintah Jerman atas dedikasinya sebagai pekerja sosial. Pada 11 November 2000, ia menerima Sidomuncul Semarang atas jasa-jasanya di bidang sosial kemanusiaan. Penghargaan lainnya, pada 2009 ia menerima Kick Andy Award bidang kesehatan.
            Tak jauh berbeda dari Mama Putih, Mama Isabela Diaz Gonzales (belakangan dikenal sebagai Mama Hitam) setia melayani kaum kusta sampai lanjut usia. Dedikasinya yang tinggi membuat ia mengurung niat untuk hidup berkeluarga. Ia mencintai para penderita kusta secara total. Mama Putih menunjukkan totalitas pengabdiannya dengan tidak kembali ke negeri asal dan menjadi WNI. Sedangkan Mama Hitam menunjukkan pengabdiannya yang tanpa pamrih dengan “melupakan” hidup berkeluarga. Ia memberi diri secara total untuk melayani para penderita kusta yang terkucil dari pergaulan sosial.
            Berkat pengabdiannya bersama temannya Gizela Borowka, sebuah rumah sakit lepra pun berhasil didirikan di Lomblen. Ia berhasil menyediakan tempat yang layak bagi orang-orang yang mendapat stigma sebagai kaum terkutuk. Seperti Mama Putih, ia pun menerima sejumlah penghargaan; Penghargaan Badan Internasional Penanggulangan Kusta di Wurzburg – Jerman/1970, Penghargaan dari pemerintah pusat/1972, Penghargaan dari pemerintah Flotim/1985, dan Sidomuncul Award/2000 (PK, 10/01/2010).
            Apa yang bisa kita petik dari riwayat dua orang “yang datang untuk mengabdi” ini? Saya melihat semangat melayani yang total dalam diri mereka. Suatu kebajikan yang jarang kita jumpai di tengah dunia yang kian dikuasai oleh semangat merebut materi bahkan merebut materi melulu dengan cara-cara yang tidak halal. Totalitas pelayanan mereka nampak dalam hal-hal seperti mengabdi tanpa batas ruang dan waktu, tanpa pamrih, tanpa menuntut lebih, tanpa mimpi meraih penghargaan sekalipun penghargaan mengalir baik dari dalam maupun luar negeri.
            Cara hidup dan semangat pelayanan yang demikian mengingatkan kita bahwa karya mereka merupakan perwujudan terdalam esensi manusia sebagai makhluk berkesadaran. Mereka sungguh menyadari diri sebagai pelayan kaum kusta. Mereka benar-benar sadar akan siapa yang harus mereka layani. Mereka mengenal identitas dirinya dan karena itu secara total mereka sadar menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
            Semangat melayani dengan kesadaran total, pada kenyataannya belum dimiliki oleh banyak pelayan publik. Ini merupakan krisis besar yang sedang melanda banyak lembaga publik di republik ini. Tanpa dedikasi yang tinggi dan kesadaran total akan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab, maka pelayanan manusia akan menjadi sia-sia belaka, nirmakna.

*Penulis , Staf Pengajar Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans – Mataloko (dimuat pada HU FP: 3 Februari 2010)


Kekerasan dan mahalnya Rasa Keadilan

Beberapa waktu lalu, Vatikan, melalui dewan kepausan untuk dialog antaragama, Jean-Louis Cardinal Tauran dan sekretaris Uskup Agung Pier Luigi Celata, menyampaikan ucapan selamat hari raya idul fitri dan pesan bagi umat Muslim seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu pesan khusus Vatikan adalah terkait dengan aksi kekerasan di kalangan penganut agama berbeda. “Semoga para pemimpin  agama dan penguasa sipil turut membenahi semua situasi demi kepentingan bersama seluruh masyarakat. Semoga penguasa sipil menegakkan hukum dengan memastikan adanya keadilan guna menghentikan tindakan para pelaku dan pendukung kekerasan,” demikian pesan Vatikan (http://www.cathnewsindonesia.com/2010/09/02/bersama-mengatasi-kekerasan-di-kalangan-penganut-agama).
Harapan dari Vatikan tersebut dapat dipahami, sebab dari waktu ke waktu, aksi kekerasan bergulir tiada hentinya. Bahkan kekerasan itu bisa saja melibatkan oknum-oknum dari kalangan penegak hukum. Sejumlah aksi tragis yang baru saja terjadi bisa disebutkan. Misalnya, bentrokan warga dan polisi di Buol yang menewaskan 8 orang, pembunuhan wartawan Sripo dan SunTV, serta tindakan penikaman seorang pendeta dan jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan oleh kelompok orang tak dikenal di Bekasi,.
Guliran aksi kekerasan itu menunjukkan bahwa kekerasan bahkan aksi pembunuhan selalu “mengintip” kehidupan umat manusia. Ketika kita lengah dan para penegak hukum pun turut lengah, kekerasan bisa terjadi hingga menelan korban jiwa. Sungguh ironis. WNI yang hidup di era reformasi, di mana orang mengagung-agungkan kebebasan, justru pada saat yang sama merasa tidak aman, tidak adil bahkan terancam hidupnya.
Hemat saya, penanganan berbagai kasus kekerasan yang tidak maju dan kerap mengabaikan azas keadilan merupakan kenyataan yang mesti dibicarakan secara terus-menerus selama kekerasan menghampiri kehidupan berbangsa. Di tingkat pusat, sudah 4 tahun penanganan kasus kematian Munir hingga hari ini belum tuntas. Di NTT, sebuah contoh kasus, misalnya sudah lebih dari 2 tahun, kasus pembunuhan (Alm.) Paulus Usnaat belum ditangani secara tuntas juga.
Merenungi kenyataan seperti ini, pertanyaan yang mesti dilontarkan adalah adakah rasa keadilan dalam nurani para penegak hukum kita? Ataukah keadilan mesti diperjual-belikan seperti barang-barang mewah di toko? Kalau benar bahwa keadilan mesti demikian adanya, maka keadilan hanyalah milik kaum berduit dan para penguasa. Mengapa yang berduit dan yang berkuasa? Karena pada satu sisi, pada era ini hanya uang yang bisa dengan cepat membuat orang bersemangat dalam bekerja. Aspek dedikasi diabaikan. Pada sisi lain, secara politis hanya pihak berkuasa yang berdaya mendobrak “tembok” penghalang lancarnya proses peradilan. Tembok penghalang itu misalnya para penguasa sipil yang bertindak korup.
Dengan demikian, di mata kaum papa, keadilan bak barang mewah di toko yang tidak dapat dijangkau secara ekonomis. Sedangkan mereka yang tak berdaya secara politis, barangkali memandang keadilan seperti memandang gunung yang kaku tapi selalu menghibur mata yang memandangnya. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Untuk mereka yang menjadi korban ketidakadilan, bisa saja berlaku pelesetan ini; maksud hati memeluk keadilan, apa dayanya seorang korban. Sudah jatuh, ditimpa tangga pula.
Apabila, negara, dalam hal ini para penguasa sipil dan penegak hukum tidak menegakkan hukum dengan memastikan keadilan bagi semua warga, maka problem kekerasan yang menghantui kehidupan sosial dan kehidupan berbangsa tak akan pernah berkurang, apalagi berakhir. Kalau kasus-kasus pembunuhan tidak diusut tuntas hingga pihak berwenang memberi hukuman yang adil bagi para aktor dan kroninya, maka tidak keliru kalau kita berani mengatakan bahwa negara gagal melindungi rakyatnya.
Dalam hal ini, saya berpikir kekerasan bisa berakar pada ketidakjujuran dalam hidup. Ketika penguasa sipil tidak lagi jujur melaksanakan prinsip-prinsip profesionalismenya, maka pada saat yang sama ia membuka peluang bagi kejahatan (kekerasan), baik kejahatan dalam tubuh penguasa sipil maupun kejahatan dalam lingkup yang lebih luas yakni kehidupan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, barangkali Mahatma Gandhi (1869-1948) benar, ketika ia berbicara tentang akar dari kekerasan. “The roots of Violence; wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character, commerce without morality, science without humanity, worship without sacrifice, politics without principles,” demikian kata Gandhi.



Potret ketidakadilan
“Wealth without work”, korupsi tentu saja termasuk dalam ungkapan Gandhi ini. Koruptor ingin kaya tanpa mau bekerja sampai mengucurkan keringat. Kalau demikian, korupsi juga tergolong sebagai akar kekerasan. Misalnya, jika seorang penegak hukum membebaskan seorang yang (terbukti) melakukan tindak pembunuhan hanya karena ia telah menerima sejumlah uang, maka tindakan korupsi ini bisa menjadi akar bagi kekerasan baru yang lebih fatal. Sebab hukum tidak ditegakkan. Hukum dikorupsi hingga pada satu titik, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk memberi efek jera bagi para pelaku dan pendukung tindak kekerasan. Kenyataan ketidakadilan seperti ini, membuat kita tidak lagi heran, jika akhir-akhir ini terjadi kisah sadisme di mana-mana.
Dalam ranah hukum, saat ini ketidakadilan nampak sangat nyata dan jelas. Ketidakadilan tidak lagi dibungkus rapi dalam selimut kekuasaan seperti pada masa Orde Baru. Ketidakadilan sebagai momok Orde Baru rupanya hanya “mati suri” ketika Orde Baru berhasil ditumbangkan pada Mei  1998. Dan saat ini praktek-praktek ketidakadilan kian “telanjang” di mata publik.
Karena itu, sebagai warga negara yang menjunjung tinggi keadilan di negeri yang usia proklamasi kemerdekaannya telah memasuki bilangan 65 tahun ini, kita patut meratapi “matinya rasa keadilan”. Frase “matinya rasa keadilan” itu merupakan salah satu judul Tajuk Rencana Kompas edisi 7 September 2010. Dalam “matinya rasa keadilan” diuraikan data ICW tentang Pengadilan Umum, Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung yang menjatuhkan vonis bebas bagi 91 terdakwa dari 166 terdakwa kasus korupsi yang ditangani pihak penegak hukum dalam kurun waktu 1 Januari hingga 10 Juli 2010. Ini merupakan potret sebuah praktek hidup tidak adil. “Rasa keadilan tampaknya sudah mati,” demikian sepenggal kalimat dalam Tajuk Rencana Kompas edisi 7 September tersebut.
Secara pribadi, saya berani mengatakan bahwa salah satu akar kekerasan di negeri ini adalah praktek hidup tidak adil dalam tubuh institusi penegak hukum. Kalau hukum sebagai alat untuk menjamin rasa keadilan dalam diri warga tidak lagi ditegakkan, alias kehilangan taringnya, maka praktek kekerasan dan ketidakadilan akan bertumbuh subur. Apalagi ada kecenderungan dalam tubuh DPR sebagai legislator untuk mengutamakan kepentingannya, ketimbang bersuara untuk membela hak-hak sipil.
Kiranya para wakil rakyat kita di daerah ini semakin jeli mengevaluasi kasus-kasus ketidakadilan (tindak kekerasan, kejahatan korupsi) yang penanganannya oleh para penegak hukum “jalan di tempat” atau malah terkesan didiamkan. Rekomendasi ini penting, sebab kalau para wakil rakyat pun turut diam terhadap penanganan tindak kekerasan atau bahkan pembunuhan yang menimpa rakyatnya, maka frase “wakil rakyat” itu sendiri mengandung keanehan.***

Jadwal Lengkap MotoGP 2011


Draft Kalender MotoGP 2011:
20 Maret 2011, Qatar (Losail)
3 April 2011, Spanyol (Jerez)
24 April 2011, Jepang (Motegi)
1 Mei 2011, Portugal (Estoril)
15 Mei 2011, Prancis (Le Mans)
5 Juni 2011, Katalunya (Katalunya)
12 Juni 2011, Inggris (Silverstone)
25 Juni 2011, Belanda (Assen)
3 Juli 2011, Italia (Mugello)
17 Juli 2011, Jerman (Sachsenring)
24 Juli 2011, Amerika Serikat (Laguna Seca)
14 Agustus 2011, Republik Ceko (Brno)
28 Agustus 2011, Indianapolis (Indianapolis)
4 September 2011, San Marino & Riviera di Rimini (Misano)
18 September 2011, Aragon (Motorland)
16 Oktober 2011, Australia (Phillip Island)
23 Oktober 2011, Malaysia (Sepang)
6 November 2011, Valencia (Ricardo Tormo Valencia)

"Lonceng-Lonceng Himalaya"



 Lonceng-lonceng Himalaya
Hari masih samar-samar. Sebuah pagi yang lain sekali (22/02). Jarum jam dinding di kapela unit Agustinus menunjukkan Pukul 05.00. Beberapa probanis sudah duduk bersilah di atas bantal bundarnya masing-masing. Pater Anis Naihati, pendamping kegiatan yang bertema Group Therapy (21–25/02), ini sedang menyiapkan musik yang akan digunakan dalam aktivitas Humming Meditation (Red. Meditasi dengung).

Beberapa probanis yang masih awam terhadap humming meditation memasuki kapela unit dengan kuriositas yang tinggi. Karena itu, ada bisik-bisik, “apa sebenarnya humming meditation itu?”. Tapi, Pater Anis segera mengobati rasa ingin tahu para probanis. Ia mulai menjelaskan proses-proses yang mesti dilewati dalam Humming Meditation. Penjelasan itu langsung diikuti dengan persiapan untuk humming meditation.

Alunan musik berupa bunyian lonceng-lonceng (biara) Himalaya mulai terdengar. Bunyi lonceng-lonceng itu begitu lembut dan segera merangsang kerja saraf; seolah mengundang para probanis untuk berdengung bersama. Lalu suasana kapela unit yang sebelumnya hening, kini berubah total. Koor dengung 20-an fratres itu sekonyong-konyong menimbulkan kesan satu keadaan bising bak konvoi kendaraan bermotor.

Suasana bising itu berlalu sesudah para peserta berdengung selama kurang lebih 15 menit sambil menikmati bunyian meditatif lonceng-lonceng Himalaya. Langkah berikutnya, para peserta Humming Meditation diminta untuk menggerakkan tangan lurus ke depan, menarik kembali dan menyatu tepat di depan dada, dengan catatan telapak tangan dibiarkan terbuka. Gerakan yang sama diulangi lagi, tapi kali ini telapak tangan dalam keadaan tertutup. Gerakan-gerakan ini mengandung makna “memberi dan menerima”. Langkah selanjutnya adalah hening total (silentium magnum). Para peserta langsung berhadapan dengan dua suasana yang bertolak belakang. Sebelumnya para peserta dibiarkan larut dalam kebisingan. Namun pada giliran ini, mereka mesti terbenam dalam kesunyian mendalam. Mereka bermeditasi. Aktivitas humming meditation ini berakhir pada pukul 06.30.

Dalam sesi sharing perasaan dan pengalaman seputar humming meditation, hampir seluruh peserta memiliki impresi positif. Bahwa humming meditation merupakan jenis meditasi yang membawa efek damai, tenang dan rasanya ada pembebasan dalam diri. Selain impresi positif itu, Fr. Hubert Watu mengungkapkan pengalamannya yang unik dan apa adanya.

 “Meditasi dengung itu menarik sekali. Saya senang. Saya bisa merasa damai. Hanya dalam gerakan maju-mundur lengan, saya menambahkan gerakan lain lagi yang aneh. Gerakan itu tidak lain adalah gerakan mengusir nyamuk....”. Syering pengalaman Fr. Hubert langsung mengundang teman-temannya dan terutama Pater Anis untuk tertawa, sebab praktisnya Hubert membuat gerakan baru dalam Humming Meditation; gerakan mengusir nyamuk.

PETITE HISTOIRE MATALOKO

“Tanpa buku, pendidikan akan  mati

Sejarah kecil  dari Mataloko. Ini adalah riwayat lahirnya sebuah sekolah di kampung. Namanya Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans – Mataloko. Letak Sekolah ini lebih kurang 15 km arah timur kota Bajawa.  Sekolah menengah ini berdiri pada 15 September 1929. Saat itu, fokus pendidikan sekolah ini mengedepankan buku sebagai sumber kecerdasan. Monsinyur Arnold Verstraelen, SVD menggagas berdirinya lembaga pendidikan ini di tengah situasi perang.
Konon, pemerintah Belanda mengeluarkan kata-kata sinis terhadap Arnold Verstraelen. Pemerintah Belanda bilang, ”Monsinyur, apakah anda sadar atau tidak? Anda memberikan pendidikan untuk orang-orang pribumi setingkat dengan anda punya pendidikan.  Apakah anda tidak membuat perhitungan? Nanti suatu saat mereka sudah pintar, mereka tendang kasi keluar anda dari tempat ini.” Orang-orang pribumi pun turut mencibir perjuangan untuk membangun sekolah ini.
Arnold Verstraelen menjawab suara sinis pemerintah Belanda itu demikian, ”Justru tujuan kami ada di sini adalah mendidik orang-orang di kampung. Kalau mereka sudah berdiri sendiri kami akan angkat kaki meninggalkan mereka dan pergi ke tempat lain.”
Sejak awal banyak tantangan menghadang. Seperti itulah kisah awal. Bahwa untuk memulai sesuatu yang ”tidak masuk akal” dibutuhkan keberanian. Karena itu, misi untuk membangun pendidikan orang-orang pribumi tetap diupayakan dan diwujudkan. Orang-orang pribumi mesti dididik untuk berani memimpin diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka harus berani melawan keadaan mereka yang buta huruf. Karena keberanian Verstraelen, maka sebuah sekolah sederhana mulai dibangun di kaki bukit-bukit Mataloko.
 Dalam perjalanan, tantangan tetap ada. Misalnya, orang-orang Mataloko pada tahun-tahun awal usia sekolah ini, mengatakan, ”sekolah macam apa ini? Su 10 taun ju belum tau ujung pangkalnya. Kalau sekolah di tempat laen, hanya dua taun sa orang su jadi guru”.  Tapi prinsip dalam diri para pendidik saat itu adalah mengejar kualitas dan bukan kuantitas. Caranya memacu orang-orang pribumi untuk menekuni buku, belajar menulis dan belajar berhitung. Sebab ada keyakinan bahwa dengan membaca, menulis, dan berhitung orang bisa menjadi cerdas, kreatif dan kritis.
*           *          *
Hingga detik ini, semangat mencintai buku dan atmosfir menggenggam buku di berbagai lorong masih dipertahankan di Seminari Mataloko. Guru-guru dan para siswa tetap mencintai buku. Kini komunitas Seminari Mataloko memiliki perpustakaan dengan koleksi mencapai 12.000 judul buku, tidak terhitung buku-buku berbahasa asing (Polandia, Mandarin, Jerman, Belanda dan Inggris) dan koleksi buku bahasa Inggris di English Room.
Romo Nani (Yohanes Moses Songkares, Pr) yang mengelola perpustakaan ini, bersaksi bahwa ia pernah menjadi begitu kecewa karena pada suatu waktu seorang guru mengumpulkan buku-buku klasik dan membakar. Ini pemandangan yang sangat lucu tapi nyata. Pengalaman itu memotivasinya untuk merenovasi perpustakaan dan mengelolanya secara besar-besaran pada 1998. Mengingat jumlah siswa semakin banyak dan minat baca siswa cukup tinggi, maka berbagai jenis buku seperti sastra, ilmu pengetahuan populer, kamus dan ensiklopedi mesti ditambahkan dalam daftar koleksi. Dengan ini respon positif datang dari berbagai pihak, misalnya; Komisi Kateketik KWI - Jakarta, O’loughlin  College - Darwin (Australia), American Women Association dan Catholic Truth Society di London, serta bantuan dan perhatian yang sangat berarti datang dari pemerintah daerah.
Romo Nani juga berkisah bahwa Perpustakaan di Seminari Mataloko ini cukup berkesan. Suatu hari seorang pegawai utusan dari Kantor Wilayah DEPDIKBUD (Sekarang Dinas PPO) yang berkunjung ke Seminari, bertutur, ”Luar biasa. Perpustakaan ini sangat baik bila dibandingkan dengan perpustakaan di sekolah-sekolah negeri yang ada di kabupaten Ngada bahkan di NTT.” Sedangkan Kepala Kantor DEPDIKBUD Ngada (1998) menegaskan, ”Pada saatnya perpustakaan ini menjadi contoh perpustakaan untuk sekolah dan masyarakat luas di wilayah Ngada.”
Kalau dikatakan luar biasa, itu hal yang benar, sebab pengadaan buku-buku dan semangat menekuni buku bukan ide yang baru digagas. Ide dan semangat ini sudah merupakan fondasi bagi sekolah ini sejak tahun 1930-an, ketika orang-orang pribumi di Flores mulai belajar di tempat ini.
 Romo Nani berkomentar bahwa otak mesti diasah terus-menerus.  Caranya adalah membaca buku. Dengan membaca kita menjadi cerdas. Ia menambahkan, ”Tak terbayangkan Flores mau jadi apa kalau tak ada campur tangan orang-orang dari Eropa dengan keberaniannya membangun rumah pendidikan di Flores, khususnya di Mataloko ini. Kalau sekolah ini tanpa budaya membaca yang diwariskan, maka keadaannya tidak seperti saat ini.”
Bahwa dengan budaya membaca yang kuat dan atmosfir cinta buku yang sangat hidup, maka banyak alumni dari sekolah ini bisa mengabdikan diri untuk Nusa dan Bangsa. Ada yang bekerja sebagai wartawan, ada yang sebagai sastrawan, ada yang sebagai ilmuwan, ada pula sebagai dosen di berbagai universitas,  dan penulis buku. Semuanya itu merupakan hasil dari jalan pendidikan yang mengedepankan buku sebagai sumber kecerdasan. Ini merupakan sebuah model pendidikan berbasis buku yang ditanam di Seminari Mataloko sejak awal dan dipertahankan hingga hari ini. Bahwa tanpa buku, pendidikan akan  mati.
Hingga hari ini, kehidupan komunitas seminari menengah ini tetap berada di kampung. Siswa-siswanya berjumlah 440 orang pada tahun ajaran 2009/2010. Jumlah yang cukup banyak di hadapan jumlah guru yang sangat sedikit yakni 36 orang. Toh demikian, perjuangan masih dibutuhkan. Kami masih jauh dari dunia internet. Kami juga jauh dari kabel-kabel telepon rumah. Tetapi kami bangga karena kami begitu menyatu dengan buku. Kami bangga dengan siswa-siswa kami yang punya minat sangat baik dalam hal membaca buku. Kami percaya dengan buku kami turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjelajah dunia. Karena itu tiada hari tanpa membaca (buku). Ini adalah jalan pendidikan yang menghargai proses. Hasilnya kami selalu menjadi terbaik. Ketika banyak sekolah mengalami kemerosotan dalam prosentasi kelulusan, kami selalu meraih hasil Ujian Nasional dengan kelulusan 100% dari tahun ke tahun. Kami memahami ini karena kami tahu bahwa pendidikan yang sesungguhnya mesti didasarkan pada buku-buku berkualitas, demikian kata seorang guru pada satu kesempatan.
Kini dunia Mataloko dikenal luas sebagai pusat belajar. Guru-guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris sering berkumpul di Mataloko untuk Belajar bersama. Begitu pun siswa-siswa dari berbagai sekolah datang ke Seminari untuk belajar. Mengapa? Alasan paling sederhana, di tempat ini para siswa menemukan atmosfir belajar yang sangat mendukung. Setiap hari, ratusan siswa menyerbu perpustakaan untuk meminjam dan mengembalikan buku, atau memasuki ruang referensi untuk menghabiskan waktu luang demi membaca. Suasananya memang apa adanya, namun buku-buku asing dan buku-buku berbahasa Indonesia telah disiapkan sebagai medan jelajah siswa.
Selain buku, lembaga ini menciptakan suasana belajar yang setara bagi guru dan siswa. Guru dan siswa duduk setara dan belajar memecahkan kesulitan yang dijumpai. ”Pada akhirnya kami berharap, agar siswa-siswa kami tetap menekuni buku dan jangan pernah takut teks. Kami juga berharap agar apabila ada dana yang cukup, kami bisa membangun lagi ruang khusus untuk taman baca bagi masyarakat luas yang hendak belajar di tempat ini.” Viva Mataloko!

HAM DAN KEBERANIAN SIPIL


       
Keberanian sipil dan HAM
(Diterbitkan Harian Umum Pos Kupang - 10 Desember 2009)
Oleh Milto Seran*

    “Kebenaran adalah jerit kerinduan semua orang, namun permainan bagi segelintir orang”, demikian tulis filosof Irlandia, George Berkeley/1685-1753 (Bryan Magee, The Story of Philosophy: p. 111). Dalam bidang kehidupan politik, ungkapan Berkeley ini menunjuk pada dua wilayah yang sering berbenturan yakni wilayah privat dan wilayah publik. Ketidakadilan dan “ketidakbenaran” yang mewujud dalam praktik korupsi, kolusi dan nepotisme misalnya, timbul jika garis demarkasi antara dua wilayah itu dikaburkan. Dengan kata lain, jika res publika (kepentingan umum) direduksi ke dalam res privata (kepentingan pribadi, golongan, kelompok), maka akibat logisnya adalah timbulnya ketidakadilan dan dapat saja kebenaran dimanipulasi oleh pihak-pihak yang berkonspirasi. Untuk melawan keadaan klasik namun menyesatkan ini dibutuhkan gerakan sadar HAM. Masyarakat atau tepatnya warga negara (WN), perlu menyadari hak-hak dasarnya. Dengan kesadaran seperti ini, WN bisa bangkit untuk menentang penguasa yang tidak adil, bertindak otoriter dan totaliter.
            Saat ini, dalam skala lokal (NTT), maupun nasional dan internasional, gerakan sadar HAM nampak dalam dua gerakan penting; gerakan membela lingkungan hidup dan gerakan anti korupsi. Hemat saya, sebagai gerakan sadar HAM, dua gerakan sipil ini penting karena sejak rezim Orde Baru, kekuatan rakyat semakin lemah. Hal ini terjadi karena dalam rezim Orde Baru, program-program pembangunan dilaksanakan melalui perangkat birokrasi Negara. Akibatnya, peranan negara semakin kuat. Struktur kekuasaan sulit diawasi dan eo ipso perangkat negara menjadi tidak mudah pula dimintai pertanggungjawaban dengan segala macam ekses negatifnya; korupsi, kolusi, nepotisme dan sebagainya (Bdk.Pengantar Adnan Buyung Nasution dalam Instrumen Internasional Pokok Hak-Hak Asasi Manusia: p. xxiii).
            Sebagai sebuah kampanye kesadaran HAM demi terwujudnya res publika,  maka tulisan ini pada prinsipnya merupakan sebuah jalan untuk menilai dan memahami berbagai gerakan unjuk rasa yang kian fenomenal di berbagai daerah saat ini.
            Pertama, aksi membela lingkungan hidup. Satu topik penting  yang diangkat dalam Konferensi Agama-Agama Sejagat di Melbourne-Australia (3/12/2009) adalah The Human Face of Climate Change. Topik ini dibawakan oleh Martin Frick (Wakil Direktur Forum Global Kemanusiaan), Tim Castello (Direktur World Vision Australia), ME Tucker (Tim Pendiri dan Direktur Forum Agama dan Ekologi di Universitas Yale). Kesimpulan mereka adalah kaum yang tidak menyebabkan perubahan iklim justru yang paling banyak menderita (FP/5/12/2009).
            Pertanyaan saya ialah siapa saja yang dimaksud dengan pihak yang paling banyak menderita itu? Saya mengamati bahwa salah satu pihak yang dimaksud adalah para petani. Saat ini, dalam konteks lokal,  para petani kerap hanya bisa menatap kekeringan terjadi di mana-mana. Tanaman menjadi tidak subur karena kekurangan air dan curah hujan yang tidak menentu. Lalu gagal panen akan menyusul pada waktunya. Bencana besar sedang melanda para petani. Itu nasib para petani. sedangkan pihak yang paling banyak diuntungkan biasanya adalah kaum kapitalis yang bergiat dalam industri-industri seperti industri pertambangan dan bisnis kayu berskala internasional.
            Kenyataan di atas menjadi alasan dasar bagi kita untuk memahami betapa perlu dan penting serta wajarnya rakyat NTT berunjuk rasa menolak industri tambang, baik di Lembata, Manggarai, maupun Timor. Rakyat sudah mulai sadar bahwa kelak pihak lain yang paling banyak diuntungkan dengan adanya industri tambang. Sedangkan petani tetaplah seorang petani sesudah aktivitas pertambangan berakhir. Kesadaran yang diikuti dengan gerakan penolakan seperti ini hemat saya menunjukkan bahwa rakyat mulai sadar akan hak-hak sipilnya ketika wakil-wakil rakyat enggan menyuarakan aspirasi publik.
            Kedua, gerakan anti korupsi. Gerakan ini yang paling hangat saat ini. Sejak “meletusnya” kasus Bibit-Chandra (yang dilukiskan dengan mural cicak vs buaya), antusiasme rakyat melawan korupsi di negeri ini kian memuncak. Kini kasus centurygate sedang diusut. Gelombang demonstrasi tak terbendung. Lalu bagaimana dengan NTT?
            Pada tahun 2006 yang lalu, TI Indonesia meluncurkan IPK Indonesia terhadap 32 kabupaten/kota, salah satunya adalah Maumere, ibu kota kabupaten Sikka. IPK untuk Maumere sebesar 3,52 (paling rendah dari kabupaten/kota lainnya). Hasil riset ini menegaskan tingginya tingkat korupsi di Maumere (PK, 25/02/2009). Selanjutnya pada awal tahun 2009 ini, TI Indonesia melalui hasil risetnya yang ke-3 mengumumkan “Kupang kota terkorup”, segera sesudah melancarkan survai selama September-Desember 2008 terhadap 50 kota di Indonesia (33 propinsi, 17 kota besar).
            Dalam pemberitaan HU PK tersebut, kita membaca hasil riset TI meninggalkan kejutan bagi kalangan tertentu. Ada yang mempertanyakan hasil survai dan ada pula yang meragukannya dengan alasan tertentu. Ada yang berdalih bahwa di kota Kupang tidak ada korupsi, sebab Kupang menyandang predikat sebagai kota KASIH, kota religius. Hemat saya,  entah Kupang sungguh kota KASIH, entah Kupang sungguh kota hunian orang-orang religius, hasil riset TI Indonesia tahun 2006 tidak menjadi bahan pelajaran berarti bagi kota KASIH, sehingga predikat mulia itu spontan berubah menjadi “kota terkorup”. Kota KASIH (sebagai ibu kota propinsi NTT) ternyata tidak belajar dari pengalaman buruk Maumere sebagai kota dengan tingkat korupsi tinggi pada tahun 2006. Terbukti di sini, bahwa hal yang termudah bagi bangsa ini adalah berbicara. Sedangkan hal yang terasulit adalah bercermin. Karena itu, bangsa kita sering ditertawakan bangsa lain, sebab kita memiliki kesulitan dalam melihat diri sendiri. NTT pun tidak luput dari penilaian ini.
            Baru-baru ini, “aroma” korupsi tercium lagi di kota Kasih. Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GN-PK) pusat, Adi Warman, S.H., M.H., MBA mengatakan, “aroma korupsi di NTT sangat terasa”. Menurutnya, hal ini terlihat dari fasilitas publik di kota Kupang yang dibangun sekenanya saja. Salah satu fasilitas yang nyata amburadul, misalnya kondisi bandara yang memprihatinkan. Untuk bangkit meninggalkan realitas korupsi, kita benar-benar membutuhkan suatu gerakan yang melibatkan berbagai pihak.
            Hemat saya gerakan anti korupsi ini membuktikan betapa rakyat mulai sungguh-sungguh sadar untuk menentukan nasib sendiri dengan menghargai hak-hak dasarnya. Salah satunya adalah hak untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Akhir-akhir ini dalam gerakan anti korupsi dan pembersihan mafia peradilan, kita melihat ada gerakan facebookers yang mendukung keberanian melawan para koruptor.
            Keadaan ini yang disebut oleh Otfried Höffe (professor filsafat pada Eberhard-Karls-Universitas Tübingen-Jerman) sebagai keberanian sipil. Bila dalam negara hukum penguasa mengabaikan hukum dan undang-undang, maka orang membutuhkan kesediaan untuk berjuang melawan ketidakadilan dan demi hukum dengan menanggung kerugian yang kadang lumayan besar, yang dibutuhkan adalah keberania sipil (Bdk. Felix Baghi (ed.), Kewarganegaraan Demokratis Dalam Sorotan Filsafat Politik: p. 81).
            Keberanian-sipil WN untuk menggunakan hak-hak dasarnya merupakan hal yang penting dalam sebuah negara hukum yang diberi label “soft state” seperti Indonesia. “Soft State” merupakan istilah yang digunakan oleh Gunnar Myrdal untuk menyebut Negara Lembek; peraturan-peraturan ada tetapi tidak ditaati, atau sekurang-kurangnya pelanggaran-pelanggaran hukum bisa diselesaikan “secara damai”. Dalam Negara lembek ini, keberanian sipil mutlak dibutuhkan. “Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia”, demikian kata Kartini via Pramoedya Ananta Toer.
            Jika ditilik lebih jauh, maka dua gerakan sipil (kewarganegaraan) di atas menegaskan bahwa sesungguhnya demokrasi di Indonesia sedang bermasalah. Demokrasi bergema di seantero tanah air dalam tataran teoretis, namun demokrasi banyak dilanggar dalam praktik, dengan korupsi yang mengakar pada korupsi politik dan ekonomi. Model korupsi ini bisa nampak dalam kebijakan-kebijakan pembangunan yang sering dirancang menurut setting kepentingan para politisi bahkan penguasa yang serentak memainkan peran sebagai pengusaha. Tak heran, baru-baru ini sebuah LSM Amerika Serikat melaporkan korupsi kehutanan ke KPK. Wakil direktur HRW (Human Right Watch) Joseph Saunders, menilai perilaku korupsi sektor kehutanan di Indonesia telah merugikan pemerintah Indonesia sebesar 2 M $ US per tahun (FP/4/12/2009).
            Dari data terakhir ini, saya menilai bahwa pihak yang diuntungkan dalam bisnis kayu internasional biasanya adalah para pegiat bisnis itu sendiri. Sedangkan pihak yang (akan) dirugikan adalah para petani yang langsung merasakan efek pemanasan global terhadap aktivitas pertanian.
            Untuk menjawab kenyataan-kenyataan tidak adil ini, kita butuh semangat keberanian sipil untuk bangkit, mengangkat tangan dan membuka mulut demi menyuarakan hak-hak dasar atas hidup yang lebih adil dan layak.

*Penulis, Peminat Masalah Demokrasi, tinggal di Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans – Mataloko