Jurnalisme
Investigatif dan Humanisme Politkovskaya
(Catatan
Pada Hari Pers Nasional, 9 Februari 2013)
Dipublikasikan Pos
Kupang Edisi Jumat, 08/02/2013
Oleh Milto Seran
Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero
Tak tersangkal oleh
siapapun, saat ini kita ramai-ramai tercebur dalam arus teknologi informasi
yang begitu maju. Sebagai misal, berita tentang bencana banjir yang menimpa
warga Jakarta, dalam hitungan detik sudah dapat diakses oleh warga di pelosok
Flores. Atau gol bunuh diri yang dilakukan oleh Christiano Ronaldo jauh di Stadion
Nuevo Los Carmenes (Spanyol) saat
menghadapi Granada, dengan mudah dapat
diketahui oleh para tukang ojek yang setia membaca koran lokal seperti Flores Pos. Para penggemar setia Real
Madrid di Flores pasti menelan kekecewaan atau bahkan mempersalahkan Ronaldo
yang sesungguhnya tak punya kontak personal dengan mereka. Kenyataan ini
menegaskan bahwa media massa (cetak dan elektronik) memiliki peran kuat dalam
mempengaruhi pikiran pembaca atau pemirsa. Ini cuma sebuah contoh soal
sederhana.
Akan tetapi, ada hal lain yang lebih serius.
Media massa dapat berperan membalikkan praktik-praktik kontrademokrasi seperti money politics, korupsi dan realitas
kontrakemanusiaan seperti perang dan krisis kebebasan bersuara. Hal terakhir
ini bertalian dengan fungsi media massa sebagai alat perjuangan. Untuk itu, dua
hal krusial yang mutlak dibutuhkan dalam profesi kewartawanan kontemporer
adalah jurnalisme investigatif dan independensi pers yang berorientasi mengabdi
kebenaran dan mengutamakan asas humanisme.
Mahalnya
Jurnalisme Investigatif
Seorang
wartawan
senior pada salah satu harian lokal di NTT dalam sebuah artikelnya melontarkan
pertanyaan ini, “Wartawan itu pejuang atau pecundang?” Tentu saja, atas nama
kemanusiaan, pilihan terbaik dalam profesi jurnalisme adalah memperjuangkan
nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, tidak ragu-ragu lagi jawaban atas
pertanyaan tersebut adalah seorang wartawan patut memainkan peran sebagai
pejuang. Jika seorang wartawan adalah pejuang kemanusiaan, maka sejatinya
profesi ini mesti disertai dengan komitmen tulus untuk menanggalkan urusan
golongan dan ideologi murahan di hadapan universalitas nilai-nilai
kemanusiaan.
Akan tetapi dalam
kenyataan kita temukan pula kelompok jurnalis berwajah pecundang, kecut dan tak
jujur dalam menjalankan profesinya. Umumnya golongan ini ditemukan di
negara-negara otoriter yang tak memberi tempat untuk kebebasan bersuara. Dalam
kondisi seperti ini, pemberitaan tak lain hanyalah upaya menegakkan rezim yang
sedang bertakhta. Konklusinya, “kata-kata tertulis” (written words) dari seorang jurnalis hanyalah alat untuk
membenarkan apa yang sesungguhnya jahat dan merugikan publik. Profesi wartawan
pecundang dalam pengertian ini adalah sebuah pembohongan publik yang
melanggengkan bencana sosial. Fungsi kontrol yang sesungguhnya inheren dalam
dunia jurnalisme akhirnya dibikin kabur oleh kaum pecundang.
Dengan demikian, jati
diri seorang wartawan bukan ditentukan oleh kuantitas dan frekuensi
pemberitaannya dalam upaya mengungkap sebuah kejahatan. Hal yang mencirikan
kesejatian diri dan profesi seorang wartawan adalah sikap keberpihakannya.
Apakah ia memilih jalan mulus untuk menyenangkan para penguasa lalim, ataukah
menapaki jalan terjal-berliku demi memenangkan kesejahteraan publik? Jurnalisme
investigatif dalam pemahaman ini mensyaratkan kesabaran dan ketulusan untuk
menyibak tabir kelaliman dan memberi celah bagi cahaya kebenaran. Karena itu,
jurnalis yang blak-blakan dalam menjalankan reportase untuk membongkar sebuah
kejahatan yang dilakoni para penguasa, cepat atau lambat menuai ancaman, bahkan
kematian merupakan taruhan terakhir dan termahal dalam dunia jurnalisme
investigatif.
Tentang hal ini, kita
bisa berpaling pada dedikasi dan solidaritas Anna Politkovskaya dalam jagat
jurnalisme. Politkovskaya adalah jurnalis Rusia yang sadar bahwa hakikat pers
adalah mencari kebenaran. Dengan kesadaran ini, ia menjalankan profesi
kewartawanannya melampaui sekadar menulis berita. Ia menolak berperan sebagai
seorang jurnalis yang cuma berdiri di tengah kerumunan. Dengan berani, sabar,
dan penuh dedikasi pada kemanusiaan, ia menghidupkan profesi jurnalisme
investigatif yang mengedepankan tiga hal penting; keadilan bagi para korban,
hukuman bagi para pelaku kejahatan, dan memperkenalkan elemen keadilan ke dalam
sistem hukum negaranya (Rusia).
Saya memahami bahwa
dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang jurnalis, Politkovskaya
menegakkan kredo pers yang mengandung empat fungsi utama: informasi,
pendidikan, kontrol, dan hiburan. Informasi mengenai apa yang sungguh ia
saksikan, pendidikan nilai-nilai kemanusiaan yang ia kedepankan, kontrol atas
kebijakan-kebijakan yang tidak mempertimbangkan kehidupan kaum marjinal, dan
hiburan bagi mereka yang sering menjadi korban ketidakadilan manakala
berhadapan dengan rezim otoriter. Politkovskaya menulis, “I am not an
investigating magistrate but somebody who describes the life around us for
those who cannot see it for themselves, because what is shown on television and
written about in the overwhelming majority of newspapers is emasculated and
doused with ideology. People know very little about life in other parts of
their own country, and sometimes even in their own region” (Lucy Popescu dan
Carole Seymour-Jones: 2007).
Politkovskaya
menyindir media cetak dan televisi
karena mayoritas pemberitaannya telah terkebiri dan terkontaminasi ideologi
tertentu. Ia menghayati budaya tandingan yang lebih berorientasi humanis. Meski
ia tahu bahwa keberpihakannya sangat berisiko, penuh ancaman terhadap
eksistensinya. Kelak, keberaniannya menentang Kremlin dan keterlibatan Rusia
dalam Perang di Cesnia, terutama profetismenya dalam mewartakan kebenaran, menghantar ia pada kematian tragis. Ia
ditembak mati oleh seorang pria anonim (07/10/2006). Kebesaran Politkovskaya
bukan terletak pada peristiwa kematiannya yang misterius, tragis dan
mengejutkan para pegiat jurnalisme, melainkan pada dedikasi genialnya bagi kaum
marjinal dan keberpihakannya pada nilai-nilai kemanusiaan, sebuah model
jurnalisme profetis.
Humanisme
Politkovskaya
Republik ini dalam
sejarahnya di bawah rezim Soeharto memiliki kisah jurnalisme yang terbelenggu. Pada
21 Juni 1994 misalnya, Tempo dibredel
bersama Editor dan Detik. Penyebabnya adalah berita Tempo terkait pembelian pesawat tempur
eks Jerman Timur oleh BJ Habibie. Berita tersebut tidak menyenangkan para
pejabat militer karena merasa otoritasnya dilangkahi. Namun, diduga, penyebab
dasarnya adalah Presiden Soeharto tidak suka Tempo. BJ Habibie hanyalah alasan pembenaran. Pengalaman ini
menunjukkan bahwa jurnalisme investigatif itu tak mudah dipraktikkan di bawah
rezim-rezim otoriter seperti Indonesia pada era Orde Baru atau juga Rusia pada
saat kematian Politkovskaya.
Mencermati
kondisi-kondisi seperti ini, saya dapat menarik dua kesimpulan sementara. Pertama, jurnalisme investigatif hanya
mungkin dilakukan jika seorang jurnalis memiliki “keberanian untuk berpihak”
(pada kebenaran). Tanpa modal solidaritas dengan “wong cilik”, jurnalisme
cenderung mewartakan apa yang tampak di permukaan saja. Karena itu, ruang
independensi pers yang semakin terbuka sejak tumbangnya rezim Soeharto mesti
diimbangi dengan komitmen dedikatif
yang memacu pegiat jurnalisme untuk berperan “lebih”. Ia tak hanya seorang yang
menulis reportase, tetapi lebih dari itu seorang pejuang kemanusiaan.
Kedua,
mengacu pada humanisme Politkovskaya, profesi kewartawanan mesti bergerak
independen. Tak terikat dengan kepentingan politis tertentu, sehingga apa yang
diberitakan sungguh-sungguh merupakan realitas dalam dunia keseharian yang
berbicara lancang kepada masyarakat pembaca. Problemnya akan muncul ketika pers
memberi diri diperalat untuk “menggolkan” kepentingan tertentu. Jika pers tak
jeli melihat titik orientasinya yang mesti mengedepankan kebenaran dan dedikasi
pada kemanusiaan, maka masalah-masalah besar seperti terorisme, sindikat narkotik,
korupsi, kemiskinan serta jaringan human-trafficking
hanya ditampilkan sebagai laporan (kata-kata) nirmakna yang dibaca oleh publik
setiap hari.*** (Dipublikasikan Pos
Kupang Edisi Jumat, 08/02/2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar