Sabtu, 23 Maret 2013


Jurnalisme Investigatif dan Humanisme Politkovskaya
(Catatan Pada Hari Pers Nasional, 9 Februari 2013)
Dipublikasikan Pos Kupang Edisi Jumat, 08/02/2013
Oleh Milto Seran
Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero


Tak tersangkal oleh siapapun, saat ini kita ramai-ramai tercebur dalam arus teknologi informasi yang begitu maju. Sebagai misal, berita tentang bencana banjir yang menimpa warga Jakarta, dalam hitungan detik sudah dapat diakses oleh warga di pelosok Flores. Atau gol bunuh diri yang dilakukan oleh Christiano Ronaldo jauh di Stadion Nuevo Los Carmenes (Spanyol) saat menghadapi Granada,  dengan mudah dapat diketahui oleh para tukang ojek yang setia membaca koran lokal seperti Flores Pos. Para penggemar setia Real Madrid di Flores pasti menelan kekecewaan atau bahkan mempersalahkan Ronaldo yang sesungguhnya tak punya kontak personal dengan mereka. Kenyataan ini menegaskan bahwa media massa (cetak dan elektronik) memiliki peran kuat dalam mempengaruhi pikiran pembaca atau pemirsa. Ini cuma sebuah contoh soal sederhana.
 Akan tetapi, ada hal lain yang lebih serius. Media massa dapat berperan membalikkan praktik-praktik kontrademokrasi seperti money politics, korupsi dan realitas kontrakemanusiaan seperti perang dan krisis kebebasan bersuara. Hal terakhir ini bertalian dengan fungsi media massa sebagai alat perjuangan. Untuk itu, dua hal krusial yang mutlak dibutuhkan dalam profesi kewartawanan kontemporer adalah jurnalisme investigatif dan independensi pers yang berorientasi mengabdi kebenaran dan mengutamakan asas humanisme.

Mahalnya Jurnalisme Investigatif
Seorang wartawan senior pada salah satu harian lokal di NTT dalam sebuah artikelnya melontarkan pertanyaan ini, “Wartawan itu pejuang atau pecundang?” Tentu saja, atas nama kemanusiaan, pilihan terbaik dalam profesi jurnalisme adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, tidak ragu-ragu lagi jawaban atas pertanyaan tersebut adalah seorang wartawan patut memainkan peran sebagai pejuang. Jika seorang wartawan adalah pejuang kemanusiaan, maka sejatinya profesi ini mesti disertai dengan komitmen tulus untuk menanggalkan urusan golongan dan ideologi murahan di hadapan universalitas nilai-nilai kemanusiaan. 
Akan tetapi dalam kenyataan kita temukan pula kelompok jurnalis berwajah pecundang, kecut dan tak jujur dalam menjalankan profesinya. Umumnya golongan ini ditemukan di negara-negara otoriter yang tak memberi tempat untuk kebebasan bersuara. Dalam kondisi seperti ini, pemberitaan tak lain hanyalah upaya menegakkan rezim yang sedang bertakhta. Konklusinya, “kata-kata tertulis” (written words) dari seorang jurnalis hanyalah alat untuk membenarkan apa yang sesungguhnya jahat dan merugikan publik. Profesi wartawan pecundang dalam pengertian ini adalah sebuah pembohongan publik yang melanggengkan bencana sosial. Fungsi kontrol yang sesungguhnya inheren dalam dunia jurnalisme akhirnya dibikin kabur oleh kaum pecundang.
Dengan demikian, jati diri seorang wartawan bukan ditentukan oleh kuantitas dan frekuensi pemberitaannya dalam upaya mengungkap sebuah kejahatan. Hal yang mencirikan kesejatian diri dan profesi seorang wartawan adalah sikap keberpihakannya. Apakah ia memilih jalan mulus untuk menyenangkan para penguasa lalim, ataukah menapaki jalan terjal-berliku demi memenangkan kesejahteraan publik? Jurnalisme investigatif dalam pemahaman ini mensyaratkan kesabaran dan ketulusan untuk menyibak tabir kelaliman dan memberi celah bagi cahaya kebenaran. Karena itu, jurnalis yang blak-blakan dalam menjalankan reportase untuk membongkar sebuah kejahatan yang dilakoni para penguasa, cepat atau lambat menuai ancaman, bahkan kematian merupakan taruhan terakhir dan termahal dalam dunia jurnalisme investigatif.
Tentang hal ini, kita bisa berpaling pada dedikasi dan solidaritas Anna Politkovskaya dalam jagat jurnalisme. Politkovskaya adalah jurnalis Rusia yang sadar bahwa hakikat pers adalah mencari kebenaran. Dengan kesadaran ini, ia menjalankan profesi kewartawanannya melampaui sekadar menulis berita. Ia menolak berperan sebagai seorang jurnalis yang cuma berdiri di tengah kerumunan. Dengan berani, sabar, dan penuh dedikasi pada kemanusiaan, ia menghidupkan profesi jurnalisme investigatif yang mengedepankan tiga hal penting; keadilan bagi para korban, hukuman bagi para pelaku kejahatan, dan memperkenalkan elemen keadilan ke dalam sistem hukum negaranya (Rusia).
Saya memahami bahwa dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang jurnalis, Politkovskaya menegakkan kredo pers yang mengandung empat fungsi utama: informasi, pendidikan, kontrol, dan hiburan. Informasi mengenai apa yang sungguh ia saksikan, pendidikan nilai-nilai kemanusiaan yang ia kedepankan, kontrol atas kebijakan-kebijakan yang tidak mempertimbangkan kehidupan kaum marjinal, dan hiburan bagi mereka yang sering menjadi korban ketidakadilan manakala berhadapan dengan rezim otoriter. Politkovskaya menulis, “I am not an investigating magistrate but somebody who describes the life around us for those who cannot see it for themselves, because what is shown on television and written about in the overwhelming majority of newspapers is emasculated and doused with ideology. People know very little about life in other parts of their own country, and sometimes even in their own region” (Lucy Popescu dan Carole Seymour-Jones: 2007).
Politkovskaya menyindir  media cetak dan televisi karena mayoritas pemberitaannya telah terkebiri dan terkontaminasi ideologi tertentu. Ia menghayati budaya tandingan yang lebih berorientasi humanis. Meski ia tahu bahwa keberpihakannya sangat berisiko, penuh ancaman terhadap eksistensinya. Kelak, keberaniannya menentang Kremlin dan keterlibatan Rusia dalam Perang di Cesnia, terutama profetismenya dalam mewartakan kebenaran, menghantar ia pada kematian tragis. Ia ditembak mati oleh seorang pria anonim (07/10/2006). Kebesaran Politkovskaya bukan terletak pada peristiwa kematiannya yang misterius, tragis dan mengejutkan para pegiat jurnalisme, melainkan pada dedikasi genialnya bagi kaum marjinal dan keberpihakannya pada nilai-nilai kemanusiaan, sebuah model jurnalisme profetis.

Humanisme Politkovskaya
Republik ini dalam sejarahnya di bawah rezim Soeharto memiliki kisah jurnalisme yang terbelenggu. Pada 21 Juni 1994 misalnya, Tempo dibredel bersama Editor dan Detik. Penyebabnya adalah berita Tempo terkait pembelian pesawat tempur eks Jerman Timur oleh BJ Habibie. Berita tersebut tidak menyenangkan para pejabat militer karena merasa otoritasnya dilangkahi. Namun, diduga, penyebab dasarnya adalah Presiden Soeharto tidak suka Tempo. BJ Habibie hanyalah alasan pembenaran. Pengalaman ini menunjukkan bahwa jurnalisme investigatif itu tak mudah dipraktikkan di bawah rezim-rezim otoriter seperti Indonesia pada era Orde Baru atau juga Rusia pada saat kematian Politkovskaya.
Mencermati kondisi-kondisi seperti ini, saya dapat menarik dua kesimpulan sementara. Pertama, jurnalisme investigatif hanya mungkin dilakukan jika seorang jurnalis memiliki “keberanian untuk berpihak” (pada kebenaran). Tanpa modal solidaritas dengan “wong cilik”, jurnalisme cenderung mewartakan apa yang tampak di permukaan saja. Karena itu, ruang independensi pers yang semakin terbuka sejak tumbangnya rezim Soeharto mesti diimbangi dengan komitmen dedikatif yang memacu pegiat jurnalisme untuk berperan “lebih”. Ia tak hanya seorang yang menulis reportase, tetapi lebih dari itu seorang pejuang kemanusiaan.
Kedua, mengacu pada humanisme Politkovskaya, profesi kewartawanan mesti bergerak independen. Tak terikat dengan kepentingan politis tertentu, sehingga apa yang diberitakan sungguh-sungguh merupakan realitas dalam dunia keseharian yang berbicara lancang kepada masyarakat pembaca. Problemnya akan muncul ketika pers memberi diri diperalat untuk “menggolkan” kepentingan tertentu. Jika pers tak jeli melihat titik orientasinya yang mesti mengedepankan kebenaran dan dedikasi pada kemanusiaan, maka masalah-masalah besar seperti terorisme, sindikat narkotik, korupsi, kemiskinan serta jaringan human-trafficking hanya ditampilkan sebagai laporan (kata-kata) nirmakna yang dibaca oleh publik setiap hari.*** (Dipublikasikan Pos Kupang Edisi Jumat, 08/02/2013).

Tidak ada komentar: